Masih belum lupa betapa viralnya ebook yang menggegerkan dunia maya di awal tahun 2026 lalu, kan? Kali ini aku akan mencoba membedahnya. Aku pribadi sudah membaca isinya, kemudian aku akan coba untuk menguraikannya “menurut versiku” dan pemahamanku sejauh ini tentang hal-hal yang berkaitan dengan psikologis korban trauma.
**Mengapa ebook Broken Strings akhirnya bisa viral?
Menurutku, ada dua faktor utama yang membantu eksistensi naskah ini makin naik, bahkan makin banyak diperbincangkan di semua sosial media. Apa saja?
Pertama, gaya bercerita.
Naskah langsung dibuka dengan perkenalan singkat dari sosoknya selama di Eropa. Khas gaya penulisan ala diary. Dia menceritakan kegiatannya dengan detail tanpa ada yang ditutupi. Gaya bercerita seperti ini menjadi satu titik balik untuk pembaca tetap “diam” tanpa “menginterupsi” karena seperti mendengarkan rekan kerja yang sibuk mengeluh dengan pekerjaannya.
Gaya bercerita Aurelie yang polos dan runtut ini juga membuat pembaca merasa related dengan kondisinya. Dia tak menggunakan jenis teori sastra tertentu untuk menuliskannya. Hanya bercerita seperti sesosok teman yang sudah lama tak bersua.
Kedua, POV bercerita.
Sudut pandang sebagai korban dan sebagai orang yang mengalami secara langsung, menjadi konteks yang menarik. Karena Aurelie merasakannya, mengalaminya, dan menuliskannya dengan jujur, tentu hal ini jadi poin plus. Saat membacanya, aku merasa bahwa ini adalah sebuah luapan hati untuk melegakan pikiran, alih-alih karangan semacam novel picisan. Terlihat ada rasa sakit di sana, rasa takut di sana, sekaligus kebingungan. Saat membacanya, aku bahkan merasa ikut tersedot dalam permainan Bobby.
Kok bisa, ya?
**Mengapa Ebook Broken Strings bisa menyedot banyak perhatian publik?
Menurutku, ada beberapa poin yang menarik untuk dikritisi lebih jauh terkait konten ebook ini. Tak mengherankan bila apda akhirnya, tak hanya menyoroti keviralan saja, melainkan juga fokus pada detail konten yang menggugah di dalamnya.
Pertama, isu soal child grooming.
Perbedaan usia yang cukup jauh membuat cerita dalam Broken Strings menjadi lebih bisa dirasakan. Adanya gap year tokoh antagonis dan tokoh utamanya menjadi salah satu faktor untuk Bobby bisa menyetir pacarnya, mengharuskannya untuk menuruti semua keinginan, bahkan mengendalikan semua hal dalam hidupnya.
Anak kecil berusia 15 tahun itu masih belum mengerti apa-apa, kecuali perasaannya. Anak remaja itu hanya ingin bebas, tapi justru dipaksa menikah. Tentu saja, kejadian demi kejadian itu sangat merenggut masa mudanya.
Kedua, isu soal pelecehan seksual (dan kekerasan di dalamnya).
Ada banyak hal-hal yang memicu pelecehan se*ksual yang teramat gamblang, tapi tidak por*no. Membaca naskah ini, pembaca diajak untuk mengenali situasi, karakter tokoh, dan detail kejadian yang menimpa Aurelie tanpa penghakiman, melainkan rasa salut dan iba dalam waktu yang bersamaan.
“Kok bisa ada lelaki sejahat ini?” Mungkin itulah yang dipikirkan banyak orang saat membaca kalimat demi kalimat di dalamnya.
Ketiga, pola asuh orang tua (baik dari ortu Aurelie atau ortu Bobby)
Betapa peran ayah jadi simbolisme tak terlihat dalam sejumlah kalimat demi kalimat yang disampaikan. Kehadiran ayah sebagai salah satu pengisi tangki cinta tidak terpenuhi dengan baik, sehingga Aurelie terpeleset pada cinta semu yang ditawarkan Bobby.
Pola asuh ibunda Bobby juga memperlihatkan bahwa anak lelakinya adalah sosok anak emas yang wajib diberikan perhatian, dukungan, dan gadang-gadang khas anak raja. Aku melihat bahwa pola asuh orang tua Bobby ini juga jadi pemicu sikap Bobby yang kasar dan tidak tahu aturan. Keluarganya menjadikan Aurelie sebagai ba*bu di rumahnya sendiri dengan alasan ini itu, jelas itu juga kurang tepat. Bobby tumbuh dengan ego yang besar dan “selalu” dimenangkan oleh orang tuanya. Makanya, dia pun jadi pribadi yang meledak-ledak saat keinginannya tidak terpenuhi.
Keempat, isu soal hubungan yang sehat.
Dari naskah itu, saya memetik banyak hal terkait sebuah hubungan yang sehat. Bahwa kekerasan pun bisa datang dari perlakuan manis. Bahwa kekerasan itu bisa datang dari sikap-sikap hangat yang manipulatif. Bahwa hubungan yang sehat itu seharusnya bisa saling membahagiakan, bukan melemahkan.
Aurelie dalam buku ini sudah merasakan ada “kejanggalan” dalam hubungan dan merasa ada yang salah. Namun, di sisi lain, sikap Bobby yang begitu manis membuat perasaannya susah untuk melepaskan. Itulah “kekuatan jahat” Bobby yang membuat gadis kecil 15 tahun itu merasa bergantung, merasa selalu dibutuhkan, merasa “diinginkan”. Feeling-nya tahu ada yang salah, tetapi otaknya seperti terhipnotis untuk menampik semuanya.
**Bagaimana konten Broken Strings jika Dinilai secara Literasi?
Jika berdasarkan apa yang aku baca dan aku cermati dari tulisan Aurelie ini, secara teknis kebahasaan bukan sesuatu yang njlimet dan penuh kata yang ndakik-ndakik untuk menyatakan suatu hal. Dia hanya menulis apa yang ia rasakan, apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, sehingga hal itu menjadi poin kekuatan buku ini.
Dalam teknis penulisan, ada istilah deskripsi lima indra, dan semua itu dipakai Aurelie dalam mendeskripsikan situasi yang ia alami mulai dari indra pendengaran, peraba, perasa, penglihatan, dan indra penciuman.
Dia juga menggunakan teknis Deep POV yang memberikan ruang kepada pembaca untuk “hadir” dan “mendengarkan” ceritanya. Deskripsi sosok tokoh satu persatu dengan ciri khasnya masing-masing, caranya menyampaikan dialog dan monolog dalam naskah juga menarik. Membuat pembaca berhasrat untuk menyelesaikan ceritanya dengan sekali duduk, berjeda, atau sambil terus menahan napas sambil menangis, mengutuk, sekaligus bersimpati. Aurelie berhasil menampilkan cara bertutur yang halus, lembut, sekaligus memikat.
Keren, ya?
**What the Good Value from the Contens?
Aku menangkap insight FOMO yang bombastis dari viralnya ebook ini. Tentu saja hal ini sangat baik. Aku coba uraikan lebih panjang, yaa.
Pertama: Semua orang tiba-tiba membaca.
Karena penasaran, karena ingin tahu, karena terpantik postingan orang lain. Semua orang akhirnya mau diam, menekuri, menyediakan waktu untuk “membaca” kisah ini. Membaca mendalam, menelusuri sisi kemanusiaannya, mengabaikan waktu tidurnya karena didera rasa ingin tahu.
Ini hal yang sangat positif terutama untuk orang-orang kita yang “konon” malas membaca. Kamu hanya perlu temukan satu buku untuk mulai. Kamu gak perlu gengsi dibilang FOMO atas hal-hal baik. Jadi, kalau kamu termasuk salah satu orang yang selesai membaca buku ini, aku ucapkan, selamat!
Kedua: Ebook ini membuka jalan untuk survival agar mau speak up.
Jujur, aku tidak pernah punya trauma tertentu. Mental illnes atau mental health hanya sebuah materi yang aku riset untuk beberapa novelku. Aku hanya tahu bahwa menjadi korban itu tidak pernah mudah. Trauma itu membekas selamanya meski sudah memaafkan. Trauma dari kejadian buruk di masa lalu ibarat paku yang dilepas dari dinding. Bekasnya selalu ada, meski sudah dicat ulang.
Aku tidak mengalaminya sendiri, tetapi bisa merasakan dan membayangkan kira-kira jika menjadi korban, aku akan seperti apa?
Nah itulah yang mau disampaikan dalam ebook ini. Sudut pandang dari korban di dalamnya menjadi catatan baru dan angin segar untuk survival trauma apapun yang membacanya. Denyan viralnya buku ini menjadi pemantik bahwa korban ya korban. Just it. Korban bukanlah sosok yang patut untuk disalahkan atas kejadian yang menimpanya, melainkan dirangkul untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Konon, Aurelie mulai berani menuliskan cerita ini setelah berkonsultasi dengan terapis dan berobat ke psikolog. Tak mengherankan, karena memang salah satu kebaikan dari menulis adalah sarana untuk terapi. Aku bahkan juga menyelipkannya di novelku.
Menulis juga bisa menjadi bagian dari rilis emosi (baik atau buruk) sehingga perasaan menjadi lebih lega. Hal itu baik untuk siapa saja. Bahkan untukmu. Kamu mau coba nulis juga?
Keempat: Love Bombing adalah senjata masif untuk menumpulkan logika dalam cinta
Aku menangkap adanya permainan logika yang diperankan sosok Bobby dalam naskah ini. Dia seolah “menanamkan” bentuk cinta itu dengan pembuktian, dalam hal ini jelas tidak masuk akal (pa*p foto bugil, o*ral, pet**ting dan tindakan kekerasan seksual lainnya).
Apalagi, tokoh Bobby selalu bisa punya kendali atas diri Aurelie. Di situlah permainan liciknya diselaraskan. Pintar sekali memutarbalikkan kata-kata. Oleh karena itu, Aurelie hanya bisa merasakan “cinta” dalam sebuah kubangan lumpur dusta. Buktikan! Itu kata-kata maut yang selalu membuat Aurelie mengkerut.
—
Demikian pendapatku terkait viralnya ebook ini.
Tokoh Bobby mengambil banyak hal dari Aurelie dengan memainkan logika dan rasa kemanusiaannya, sisi psikologisnya, serta ancaman yang membuat korban merasa terkekang. Adanya tulisan Aurelie ini memantik banyak hal untuk dibahas, bukan?
Teman-teman yang sudah baca ulasan ini sampai akhir, boleh setuju, boleh juga tidak. Mari berdiskusi dengan sehat di kolom komentar, yaa.
[]








