Bismillah

Bismillah

Kamis, 05 November 2026

Broken Strings : Ketika “Cinta” Mempermainkan Logika dan Psikologis Anak Muda


Masih belum lupa betapa viralnya ebook yang menggegerkan dunia maya di awal tahun 2026 lalu, kan? Kali ini aku akan mencoba membedahnya. Aku pribadi sudah membaca isinya, kemudian aku akan coba untuk menguraikannya “menurut versiku” dan pemahamanku sejauh ini tentang hal-hal yang berkaitan dengan psikologis korban trauma.


**Mengapa ebook Broken Strings akhirnya bisa viral?





Menurutku, ada dua faktor utama yang membantu eksistensi naskah ini makin naik, bahkan makin banyak diperbincangkan di semua sosial media. Apa saja?


Pertama, gaya bercerita.


Naskah langsung dibuka dengan perkenalan singkat dari sosoknya selama di Eropa. Khas gaya penulisan ala diary. Dia menceritakan kegiatannya dengan detail tanpa ada yang ditutupi. Gaya bercerita seperti ini menjadi satu titik balik untuk pembaca tetap “diam” tanpa “menginterupsi” karena seperti mendengarkan rekan kerja yang sibuk mengeluh dengan pekerjaannya.


Gaya bercerita Aurelie yang polos dan runtut ini juga membuat pembaca merasa related dengan kondisinya. Dia tak menggunakan jenis teori sastra tertentu untuk menuliskannya. Hanya bercerita seperti sesosok teman yang sudah lama tak bersua. 


Kedua, POV bercerita.


Sudut pandang sebagai korban dan sebagai orang yang mengalami secara langsung, menjadi konteks yang menarik. Karena Aurelie merasakannya, mengalaminya, dan menuliskannya dengan jujur, tentu hal ini jadi poin plus. Saat membacanya, aku merasa bahwa ini adalah sebuah luapan hati untuk melegakan pikiran, alih-alih karangan semacam novel picisan. Terlihat ada rasa sakit di sana, rasa takut di sana, sekaligus kebingungan. Saat membacanya, aku bahkan merasa ikut tersedot dalam permainan Bobby.


Kok bisa, ya?


**Mengapa Ebook Broken Strings bisa menyedot banyak perhatian publik?


Menurutku, ada beberapa poin yang menarik untuk dikritisi lebih jauh terkait konten ebook ini. Tak mengherankan bila apda akhirnya, tak hanya menyoroti keviralan saja, melainkan juga fokus pada detail konten yang menggugah di dalamnya.


Pertama, isu soal child grooming.


Perbedaan usia yang cukup jauh membuat cerita dalam Broken Strings menjadi lebih bisa dirasakan. Adanya gap year tokoh antagonis dan tokoh utamanya menjadi salah satu faktor untuk Bobby bisa menyetir pacarnya, mengharuskannya untuk menuruti semua keinginan, bahkan mengendalikan semua hal dalam hidupnya.


Anak kecil berusia 15 tahun itu masih belum mengerti apa-apa, kecuali perasaannya. Anak remaja itu hanya ingin bebas, tapi justru dipaksa menikah. Tentu saja, kejadian demi kejadian itu sangat merenggut masa mudanya.


Kedua, isu soal pelecehan seksual (dan kekerasan di dalamnya).


Ada banyak hal-hal yang memicu pelecehan se*ksual yang teramat gamblang, tapi tidak por*no. Membaca naskah ini, pembaca diajak untuk mengenali situasi, karakter tokoh, dan detail kejadian yang menimpa Aurelie tanpa penghakiman, melainkan rasa salut dan iba dalam waktu yang bersamaan.


“Kok bisa ada lelaki sejahat ini?” Mungkin itulah yang dipikirkan banyak orang saat membaca kalimat demi kalimat di dalamnya.


Ketiga, pola asuh orang tua (baik dari ortu Aurelie atau ortu Bobby)


Betapa peran ayah jadi simbolisme tak terlihat dalam sejumlah kalimat demi kalimat yang disampaikan. Kehadiran ayah sebagai salah satu pengisi tangki cinta tidak terpenuhi dengan baik, sehingga Aurelie terpeleset pada cinta semu yang ditawarkan Bobby.


Pola asuh ibunda Bobby juga memperlihatkan bahwa anak lelakinya adalah sosok anak emas yang wajib diberikan perhatian, dukungan, dan gadang-gadang khas anak raja. Aku melihat bahwa pola asuh orang tua Bobby ini juga jadi pemicu sikap Bobby yang kasar dan tidak tahu aturan. Keluarganya menjadikan Aurelie sebagai ba*bu di rumahnya sendiri dengan alasan ini itu, jelas itu juga kurang tepat. Bobby tumbuh dengan ego yang besar dan “selalu” dimenangkan oleh orang tuanya. Makanya, dia pun jadi pribadi yang meledak-ledak saat keinginannya tidak terpenuhi.


Keempat, isu soal hubungan yang sehat.


Dari naskah itu, saya memetik banyak hal terkait sebuah hubungan yang sehat. Bahwa kekerasan pun bisa datang dari perlakuan manis. Bahwa kekerasan itu bisa datang dari sikap-sikap hangat yang manipulatif. Bahwa hubungan yang sehat itu seharusnya bisa saling membahagiakan, bukan melemahkan.


Aurelie dalam buku ini sudah merasakan ada “kejanggalan” dalam hubungan dan merasa ada yang salah. Namun, di sisi lain, sikap Bobby yang begitu manis membuat perasaannya susah untuk melepaskan. Itulah “kekuatan jahat” Bobby yang membuat gadis kecil 15 tahun itu merasa bergantung, merasa selalu dibutuhkan, merasa “diinginkan”. Feeling-nya tahu ada yang salah, tetapi otaknya seperti terhipnotis untuk menampik semuanya.


**Bagaimana konten Broken Strings jika Dinilai secara Literasi?


Jika berdasarkan apa yang aku baca dan aku cermati dari tulisan Aurelie ini, secara teknis kebahasaan bukan sesuatu yang njlimet dan penuh kata yang ndakik-ndakik untuk menyatakan suatu hal. Dia hanya menulis apa yang ia rasakan, apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, sehingga hal itu menjadi poin kekuatan buku ini.


Dalam teknis penulisan, ada istilah deskripsi lima indra, dan semua itu dipakai Aurelie dalam mendeskripsikan situasi yang ia alami mulai dari indra pendengaran, peraba, perasa, penglihatan, dan indra penciuman. 


Dia juga menggunakan teknis Deep POV yang memberikan ruang kepada pembaca untuk “hadir” dan “mendengarkan” ceritanya. Deskripsi sosok tokoh satu persatu dengan ciri khasnya masing-masing, caranya menyampaikan dialog dan monolog dalam naskah juga menarik. Membuat pembaca berhasrat untuk menyelesaikan ceritanya dengan sekali duduk, berjeda, atau sambil terus menahan napas sambil menangis, mengutuk, sekaligus bersimpati. Aurelie berhasil menampilkan cara bertutur yang halus, lembut, sekaligus memikat.


Keren, ya?


**What the Good Value from the Contens?


Aku menangkap insight FOMO yang bombastis dari viralnya ebook ini. Tentu saja hal ini sangat baik. Aku coba uraikan lebih panjang, yaa.


Pertama: Semua orang tiba-tiba membaca. 


Karena penasaran, karena ingin tahu, karena terpantik postingan orang lain. Semua orang akhirnya mau diam, menekuri, menyediakan waktu untuk “membaca” kisah ini. Membaca mendalam, menelusuri sisi kemanusiaannya, mengabaikan waktu tidurnya karena didera rasa ingin tahu.


Ini hal yang sangat positif terutama untuk orang-orang kita yang “konon” malas membaca. Kamu hanya perlu temukan satu buku untuk mulai. Kamu gak perlu gengsi dibilang FOMO atas hal-hal baik. Jadi, kalau kamu termasuk salah satu orang yang selesai membaca buku ini, aku ucapkan, selamat!


Kedua: Ebook ini membuka jalan untuk survival agar mau speak up.


Jujur, aku tidak pernah punya trauma tertentu. Mental illnes atau mental health hanya sebuah materi yang aku riset untuk beberapa novelku. Aku hanya tahu bahwa menjadi korban itu tidak pernah mudah. Trauma itu membekas selamanya meski sudah memaafkan. Trauma dari kejadian buruk di masa lalu ibarat paku yang dilepas dari dinding. Bekasnya selalu ada, meski sudah dicat ulang. 


Aku tidak mengalaminya sendiri, tetapi bisa merasakan dan membayangkan kira-kira jika menjadi korban, aku akan seperti apa?


Nah itulah yang mau disampaikan dalam ebook ini. Sudut pandang dari korban di dalamnya menjadi catatan baru dan angin segar untuk survival trauma apapun yang membacanya. Denyan viralnya buku ini menjadi pemantik bahwa korban ya korban. Just it. Korban bukanlah sosok yang patut untuk disalahkan atas kejadian yang menimpanya, melainkan dirangkul untuk menyembuhkan luka-lukanya.


Konon, Aurelie mulai berani menuliskan cerita ini setelah berkonsultasi dengan terapis dan berobat ke psikolog. Tak mengherankan, karena memang salah satu kebaikan dari menulis adalah sarana untuk terapi. Aku bahkan juga menyelipkannya di novelku. 


Menulis juga bisa menjadi bagian dari rilis emosi (baik atau buruk) sehingga perasaan menjadi lebih lega. Hal itu baik untuk siapa saja. Bahkan untukmu. Kamu mau coba nulis juga?


Keempat: Love Bombing adalah senjata masif untuk menumpulkan logika dalam cinta


Aku menangkap adanya permainan logika yang diperankan sosok Bobby dalam naskah ini. Dia seolah “menanamkan” bentuk cinta itu dengan pembuktian, dalam hal ini jelas tidak masuk akal (pa*p foto bugil, o*ral, pet**ting dan tindakan kekerasan seksual lainnya).


Apalagi, tokoh Bobby selalu bisa punya kendali atas diri Aurelie. Di situlah permainan liciknya diselaraskan. Pintar sekali memutarbalikkan kata-kata. Oleh karena itu, Aurelie hanya bisa merasakan “cinta” dalam sebuah kubangan lumpur dusta. Buktikan! Itu kata-kata maut yang selalu membuat Aurelie mengkerut.


—


Demikian pendapatku terkait viralnya ebook ini.

Tokoh Bobby mengambil banyak hal dari Aurelie dengan memainkan logika dan rasa kemanusiaannya, sisi psikologisnya, serta ancaman yang membuat korban merasa terkekang. Adanya tulisan Aurelie ini memantik banyak hal untuk dibahas, bukan? 


Teman-teman yang sudah baca ulasan ini sampai akhir, boleh setuju, boleh juga tidak. Mari berdiskusi dengan sehat di kolom komentar, yaa. 



[]


Sabtu, 28 Februari 2026

Hush Little Baby : Tentang Peran Ibu, Cinta Kasihnya, Plus Keriuhan Kepalanya

 Assalamualaikum, teman-teman. Kali ini aku mau bahas buku yang akan membahas tentang ibu, berjudul Hush Little Baby. Buku ini udah lama sliweran di Tiktok, kepincutlah buat beli karena harganya cuma setara dua mangkok bakso reguler! 


***Identitas Buku





Judul: Hush Little Baby : “Jika aku tidak punya ibu, bagaimana aku bisa menjadi seorang ibu?”

Penulis: Anggun Prameswari

Penerbit: Noura Books

Tahun Terbit: 2018

Tebal: 325 halaman



***Ringkasan Cerita


Kisah ini menceritakan tentang Ruby, seorang ibu yang berusia 30 tahun, yang mengalami depresi pascamelahirkan anaknya, Gendhis. Meski diberikan support system yang luar biasa oleh Rajata, suaminya yang kaya raya lagi penyayang, Ruby masih tetap mempertanyakan kelayakannya sebagai seorang ibu. Hal itu menjadi pemicu beberapa konflik di dalamnya, termasuk dengan ibu mertua dan baby sitter-nya. Semakin digali lebih jauh, rupanya ada benang merah trauma Ruby itu dengan sang ibu yang juga sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Apakah Ruby akhirnya bisa berdamai dengan dirinya? Kalian bisa membacanya sendiri agar tahu jawabannya.



***Teknis Penceritaan dalam Hush Little Baby


Ada beberapa poin yang aku cermati saat membaca naskah ini. Secara teknis penceritaan, Hush Little Baby sudah komplit dalam mendedah sebuah kisah secara menyeluruh dan selesai. Tidak ada scene yang dipaksakan hadir, semuanya sudah pas sesuai takaran, tanpa ada kepingan-kepingan kisah yang hendak menonjol satu sama lain.


Pertama, Opening Cerita


Kisah dibuka dengan PoV aku Ruby yang sedang dalam perawatan di rumah sakit. Pada bab awal, perkenalan yang dijejalkan masih standar. Tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak terlalu lambat. Penonton diajak berkenalan dengan si tokoh secara perlahan-lahan. Dengan penggunaan Deep PoV, naskah ini membuat kisah yang saling berkelindan apda tiap babnya.


Kedua, Karakterisasi Tokoh Utama


Menggunakan PoV 1 aku, penulis menjabarkan semua hal yang terjadi pada tokoh Ruby dari sudut pandang penceritaannya. Tidak ada kebocoran PoV dalam naskah ini, sehingga semua alur yang terjalin di dalamnya cukup rapi dan mudah dipahami. Apalagi dengan deskripsi lima indera, plus dengan pilihan diksi yang ciamik, membuat naskah ini sangat terasa dekat dengan pembaca karena ikut merasakan emosi yang tertulis dengan sangat baik.


Ketiga, Lompatan PoV dalam Cerita


Penulis menggunakan lompatan PoV antara aku di usia 15 tahun dan aku di usia 30 tahun. Keduanya tampak saling mengisi, sehingga pembaca pun akan merasa bisa memahami si tokoh aku dengan latar belakang yang berpengaruh pada sikap dan sifatnya di masa sekarang. Dengan langkah penceritaan yang demikian halus, pembaca diminta untuk “percaya” kepada si tokoh sampai akhir, sehingga twist yang dihadirkan pun tidak terasa terlalu memaksa. 


Keempat, Konflik dan Alur Cerita


Mengangkat tema post partum depression, naskah ini berkonflik sekitar perasaan emosional Ruby sebagai tokoh utama, kemudian diselipkan dengan masalah-masalah di sekitarnya yang masih cukup relevan sebagai isu sosial seperti kelahiran normal vs sesar, ibu pekerja vs ibu rumah tangga, dan peran sosial seorang ibu setelah resmi melahirkan anak. Hal ini bisa menjadi refleksi singkat yang cukup menyentil pembaca secara tidak langsung.


Kelima, Ending


Dari serangkaian cerita di dalamnya, aku sangat menyukai ending naskah ini. Tidak menggantung, tidak menyimpan pertanyaan yang belum terjawab, sehingga naskah ini bisa dikatakan “selesai” saat menutup lembar terakhirnya. Sebagai pembaca, saya bisa memahami kondisi dan alasan para tokohnya di dalamnya dalam melakukan tindakan-tindakannya. Hal itu tentu tak lepas dari cara penulis yang lincah menyajikan cerita yang logis dan berterima nalar.


***Plot Twist dalam Cerita


Ada beberapa tebaran petunjuk yang dilempar ke pembaca dalam bab-bab menjelang akhir. Ada dua petunjuk yang berhasil “aku makan”, sehingga twist-nya tidak terlalu terasa nendang. Aku bisa menebaknya dengan benar, doong!


Namun, ada satu twist ending yang benar terasa mengagetkan saat mendapatinya. Ekspresiku hanya, ‘Lhooh, kok bisa? Luput dari pengamatan!” Padahal aku termasuk pembaca yang cukup jeli mencermati petunjuk twist-nya. Jadi, meski aku bisa ‘membaca’ dua twist yang disajikan penulis, aku merasa tetap kecolongan dengan akhir ceritanya.


Kalau kamu termasuk pembaca yang demen twist berlapis, silakan baca novel satu ini. Dijamin nggak bakalan nyesel!


***Poin Post Partum Depression dalam Cerita


Ada beberapa poin yang dimasukkan penulis tentang gejala PPD (Post Partum Depression) yang terjadi dalam diri Ruby. Mungkin, hal ini akan dianggap  spoiler cerita, sehingga teman-teman yang belum baca, bisa skip bagian ini, ya. Aku hanya akan mengutipkan beberapa kalimat teks dalam buku yang menurutku masuk dalam poin post partum depression yang ingin disampaikan penulis. Apa aja, ya?


Pertama, perasaan denial bahwa dirinya sakit.


“ “Kamu pikir aku gila?”

“No!” Rajata menyentuh bahuku, berusaha membuatku rileks, “... cuma ngobrol aja, siapa tahu psikolog bisa membuatmu lebih baik, mereka punya ilmunya, kan?”

“Sebaiknya kamu kembali ke kantor,” jawabku kering. “Aku baik-baik saja.”

“Oke, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, aku cuma ….”

Aku waras.

Aku tidak gila.

Aku bukan ibuku.

“Stop! Aku baik-baik saja!” ”


Kedua, mood swing yang terlalu mendadak.


Perasaan Ruby saat menjadi ibu mudah berubah. Sebentar tertawa, sebentar menangis, bahkan sempat hendak menenggelamkan Gendhis dengan dalih ingin mendiamkannya sebagaimana di dalam rahim yang penuh dengan air. Ruby sangat terobsesi dengan air selama masa depresinya, dia juga sempat berendam di bath tub saat upacara aqiqah Gendhis tanpa peduli orang-orang di sekitarnya yang sedang mencarinya. 


Ketiga, adanya pikiran berbahaya jika melihat bayi


“Tanganku bergerak sendiri. Meski masih gemetaran, aku mencoba menopang leher dan pinggangnya. Kupindahkan dia ke gendonganku. Sebuah perasaan aneh membanjiriku. Membuatku tak terkendali.


Ini kesempatanku. Aku bisa membekapkan selimut itu ke mulutnya. Atau kubanting saja dia ke tanah hingga pecah kepalanya. Atau ku tenggelamkan saja ke kolam ikan yang ada di taman itu. Jika dia mati, mereka akan merasakan apa yang kurasakan.”


Keempat, merasa benci atas perannya sebagai seorang ibu.


“Seharusnya, kuangkat saja rahimku atau memotong tuba fallopy. Apa pun itu, yang pasti aku tidak perlu hamil seperti ini. Namun, bagaimana mungkin? Disuntik saja membuat tubuhku panas dingin, apalagi harus operasi. Butuh biaya besar. Pemulihan lama. Dan, tentu saja, tak bisa kulakukan di belakang Rajata.


Aku tidak mau jadi ibu.”


***Relevansi Cerita dengan Pengalaman Pribadi


Saat membaca naskah ini, aku jadi ingat beberapa moment saat kehamilan dan melahirkan yang punya cerita hampir sama. Rasa mual muntah di awal kehamilan, dijabarkan penulis dengan sangat detail dan apik. Saat proses melahirkan dan anak perlu diinkubator selama seminggu saat aku melahirkan Rendra, anak sulungku, juga hampir sama dengan cerita Ruby. Rasa patah hati karena belum bisa menyusui, asi nggak keluar, perlekatan belum benar, rasa bengkak yang menyiksa karena tidak maksimal selama menyusui, membuatku punya rasa simpati yang tak bisa kujelaskan kepada tokoh Ruby.


Penulis tidak berupaya terlalu keras untuk membuat pembaca mengerti, sehingga karakter Ruby yang dihadirkan di dalamnya pun seolah punya kemauan tersendiri yang bisa dipahami pembaca yang pernah hamil, melahirkan, dan menyusui. Ini adalah salah satu poin plus yang kupelajari juga sebagai penulis agar bisa menyajikan cerita yang filmis dan menarik kepada pembaca.


***Catatan untuk Penulis


Buku ini dicantumkan label urban thriller di sampulnya. Namun, buat aku pribadi, eksekusi “urban thriller” masih kurang maksimal. Belum sampai di tahapan selalu bikin tegang dan punya page turner yang menarik, sehingga menurutku penerapan untuk genre urban thriller belum terlalu menonjol.


Kisah tentang kehidupan urban udah oke, hanya thriller-nya yang masih butuh lebih gong lagi. Aku nggak bilang ini jelek ya. Ini bagus banget secara konsep cerita. Jadi, kamu nggak perlu maju-mundur kalau mau beli dan baca!


***Closing Statement


Depresi pascamelahirkan adalah salah satu hal yang sangat rentan terjadi bagi seorang ibu. Oleh karena itu perlu adanya dukungan moral dan material yang diberikan dari lingkungan sekitar ibu melahirkan agar “rasa waras” itu tetap terjaga. Mood dan emosi ibu melahirkan sangat sensitif, sehingga perlu adanya filter dan tameng yang kuat dari suami agar ibu baru bisa tetap menikmati perannya tanpa kehilangan dirinya.


Bagiku pribadi, naskah ini sangat merepresentasikan kestabilan emosi seorang ibu di mata keluarga, lingkungan, bahkan di dalam prasangka dirinya sendiri. Aku pribadi pun banyak belajar tentang karakterisasi dan penyajian cerita dari naskah Hush Little Baby ini. Anggun Prameswari berhasil membawakan cerita yang indah dan related untuk para ibu yang membacanya. 


Good job! Aku beri rate 4,7 dari 5 untuk naskah ini!










Selasa, 29 April 2025

Review 86 Karya Okky Madasari: Kritik yang Berani tentang Suap di Berbagai Lini Kehidupan

Halo gais. Setelah setahun gak apdet, akhirnya hari ini bisa share ulasan lagi di sini. Oke, buku yang mau dikulik kali ini adalah salah satu tulisan Okky Madasari berjudul 86.

°°Identitas Buku

Judul : 86

Penulis  : Okky Madasari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit  : 2011

ISBN : 978-979-22-6769-3

Tebal : 260 halaman



Source: Google image

°°Sinopsis Cerita

Naskah ini bercerita tentang Arimbi, salah satu pegawai di kantor pengadilan di Jakarta, yang akhirnya tersangkut masalah karena pilihan-pilihan yang ia buat sendiri. Berikut aku kutipkan blurb di cover belakang, ya.

“Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?

Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggan kedua orang tuanya dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam setiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiunan saat tua nanti.

Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan.  Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.

Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian dari orang-orang yang tak punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan oleh banyak orang. Tak ada lagi yang perlu ditakutkan kalau semua orang sudah menganggapnya sebagai sebuah kewajaran.

Pokoknya, 86!”


°°Keunggulan Naskah

Untuk teknikal, Okky Madasari memang sudah bagus, ya gais, ya. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang memang harus dimiliki penulis, sehingga kenyamanan dalam membaca adalah hal yang paling mendasar.  Tak ada salah ejaan yang berarti, semuanya aman terkendali.

Selain itu, saya suka caranya membuat tek-tok percakapan yang bisa menggiring konflik yang lebih besar. Alur yang dibuat sangat natural, tidak ada scene-scene yang dipaksakan. Ada sebab akibat yang terjalin rapi dalam setiap adegan yang disajikan.

Value yang dikedepankan adalah kritik sosial terkait dengan tindak suap di pengadilan. Tak bisa dipungkiri bahwa suap menyuap ini memang menjadi keresahan tersendiri, apalagi untuk pekerjaan. Saat belum memasuki konflik utama, pembaca diberikan gambaran pertama terkait kepala desa, yang mau “nitip” anaknya agar bisa ikut bekerja di kantor pengadilan. Hal ini menjadi bagian permulaan yang akan membawa masalah suap ini pada konflik yang lebih besar.

Ada penjelasan terkait judul 86 ini pada halaman 94: Ungkapan 86 awalnya digunakan di kepolisian yang artinya sudah dibereskan, tahu sama tahu. Tapi kemudian digunakan sebagai tanda penyelesaian berbagai hal dengan menggunakan uang.

Maka, saya menyimpulkan bahwa pilihan penulis menggunakan judul ini yakni berorientasi pada “peran uang” yang menjadi pembahasan paling utama dalam plot dan penggerak ceritanya. 


°°Pendapat Pribadi Terkait Naskah Novel 86

Saya pribadi menyukai konsep cerita dalam novel ini. Tarik ulur penceritaannya juga menyenangkan. Saya hanya agak menyayangkan pada bagian awal cerita yang terasa bertele-tele, tipe telling tapi rada terkesan menggurui untuk saya pribadi. Asli, baca 1 bab pertama rasanya capeeek banget. Narasi yang penuh, padat, dan terstruktur. Meski memang hal itu dibutuhkan sebagai world building pertama pada cerita, tetapi bagi saya, itu menjadi sedikit kelemahan yang membuat ritme cerita di awal terasa sangat lambat.

Meski demikian, saya sangat suka cara penulis melakukan deskripsi tokoh: mendetail dan bisa dibayangkan. Pada bagian ini, saya kutipkan salah satu cuplikannya di halaman 33.

“Di samping kiri mereka duduk seorang laki-laki setengah baya keturunan Cina. Matanya sipit. Ada banyak lipatan kulit di kening dan dagu. Kepala botaknya menyisakan sedikit rambut putih. Ia memakai kemeja putih dan dasi warna biru lengkap dengan setelan jas warna hitam.

Di sisi kiri ada lebih banyak orang. Empat orang di bangku barisan depan dan empat orang lagi di bagian belakang. Di ujung kiri duduk perempuan setengah baya. Melihat perempuan itu Arimbi teringat Bu Danti. Mukanya yang kinclong dengan pulasan bedak komplet, sasakan rambut, blus hijau muda motif bunga dipadukan dengan rok hitam selutut, dilengkapi kalung dan giwang mutiara putih yang gilap.”

Cakep, ya? Detail, lengkap, dan asik untuk diimajinasikan.

Cara penulis membuat sebuah adegan, tokoh dengan kelemahan, kemudian situasi yang harus dihadapi, pilihan-pilihan yang harus dibuat, membuat saya berkaca pada diri sendiri, kalau saya belum bisa seberani itu, bahkan belum sepintar itu meramu cerita. Saya banyak belajar dari naskah-naskah Okky Madasari meski baru baca dua novelnya.

Bagaimana ending ceritanya? Kalian perlu baca sendiri biar merasakan sensasinya!


°°Closing Statement

Resah, itu kunci dalam membuat karya. Saya turut merasakan keresahan-keresahan yang penulis ingin ungkapkan dalam karyanya. Pada naskah yang sebelumnya saya baca, Maryam, beliau dengan sangat berani membuat tokoh dari golongan kiri “Ahmadi” yang cenderung mendapat diskriminasi di negeri sendiri. Dalam naskah ini, keresahan terkait money politics menjadi highlight yang sangat menonjol. Seperti slogan yang sempat viral beberapa waktu lalu, “Lo punya duit, lo punya kuasa” benar-benar terejawantah dan tereksekusi dengan sangat apik dalam novel ini.


Aku suka karyamu, Okky Madasari.

Good job!


Banjarnegara, 29 April 2025

Selasa, 19 September 2023

Ketika Kesempurnaan Dipertanyakan, Sudahkah Kamu Melihat dari dalam Dirimu?

Halo teman-teman, terima kasih sudah mampir ke sini ya. Saya mau review naskah novel lagi, nih. Kali ini dari teman satu literasi di Parade Kupa5 LovRinz yakni buku Perfect Siblings. Check this out!

• Identitas Buku

Judul:Perfect Siblings (Everyone has own definition of perfect)

Penulis: Yunita Chearrish

Penerbit: LovRinz Publishing

Tahun Terbit: 2021

Tebal buku: 175 halaman

ISBN: 978-623-5598-01-7

• Sinopsis Ringkas

Untuk bagian sinopsis ringkas, saya tuliskan ulang blurb pada halaman belakangnya, ya.

“ ‘Perfect Siblings’ adalah julukan untuk Jessie Mayline dan Judy Meline yang sempurna dengan caranya masing-masing.Jessie selalu menarik perhatian karena penampilan luarnya dan sifat anggunnya, sedangkan Judy memiliki otak jenius hingga bisa mengikuti program akselerasi.

Lantas, bagaimana jika mereka dipertemukan dengan pribadi yang berbanding terbalik dengan pesona keduanya?

Adapun Tomari Shinou dengan prestasi terendah, juga Genta Harvey si gemuk yang sering dibuli. Siapa sangka masing-masing sudah merapal nama untuk diabadikan dalam hati.

Kalimat ‘everyone has own definition of perfect’ sungguh mewakilkan para tokoh di dalamnya.”

Berdasarkan dari blurb-nya, sudah terbayang ya, jalannya cerita akan menyoroti 4 tokoh utamanya. Semuanya punya keunikan dan ciri khas masing-masing yang dideskripsikan dengan baik oleh penulis.

• Opening Cerita

Opening cerita dibuat dengan menggunakan tanda tanya, serta menggunakan POV 2 dalam narasinya:“Jika mendengar tentang murid pindahan, apa tanggapanmu?”

Menurut saya, pembuka kalimat novel dengan gaya seperti itu kurang efektif digunakan. Memang, saya paham bahwa tujuan penulis menggunakan kata “kamu” yakni memancing pembaca untuk ikut terlibat di dalam cerita, tapi di sisi lain, justru menjadi sebuah ambiguitas dalam POV, apalagi, subjek “kamu” aka pembaca, tidak lagi digunakan pada kelanjutan ceritanya.

Then, pada bab 1 perkenalan tokoh juga cukup baik, tidak dump info, karena penjelasan tentang karakter tokoh cukup mengalir pada gerakan tokoh, gestur, dan cara para tokohnya berinteraksi.

• Ide dan Tema Novel

Ide dan tema cerita yang diambil masih sangat umum. Keumuman ini justru menjadi satu hal yang realistis karena para pembaca bisa merasakan relate pada ceritanya. Tentang anggapan cantik dan ganteng secara global, tentang definisi sempurna pada diri seseorang, dan tentang cinta yang tulus.

Dengan ide yang sangat dekat dengan pembaca, tentu naskah ini lebih mudah untuk diterima semua kalangan, termasuk anak-anak. Saya boleh katakan, bahwa novel ini bisa dibaca mulai usia 10+. Tidak ada bahasa yang terlalu mendayu-dayu, sehingga akan lebih mudah dipahami. Tidak ada adegan yang vulgar, sehingga aman untuk dibaca semua pihak.

• Catatan untuk Penulis

Secara teknis, saya merasa bahwa penulis sudah memiliki jam terbang yang cukup baik dalam menulis. Namun, tentu saja ada beberapa kekurangan yang saya temukan di dalam naskah ini, sesuai dengan pengalaman dan pemahaman saya selama ini. Apa aja ya?

Pada halaman 11 : Bel istirahat yang selalu dinanti akhirnya tiba.

Kalimat tersebut menurut saya kurang lengkap secara tatanan S-P-O-K karena tidak ada subjek di dalamnya. Padahal, kalimat itu adalah pembuka paragraf. Maka, ada baiknya kalau Subjek tertulis dengan jelas, meski pada kalimat selanjutnya dijabarkan bahwa “para murid” yang menantikan bel tersebut.

Jika tak ada penjelasannya, maka kalimat tersebut menjadi kurang berterima karena menimbulkan pertanyaan : siapa yang menunggu bel istirahat? Apakah semua warga sekolah menanti jam istirahat? Siswa saja yang menanti bel istirahat, atau para guru juga menantinya?

Pada halaman 11 juga terdapat kalimat yang ambigu secara penyampaian: Bukannya sombong, hanya saja tidak ada yang bisa beradaptasi dengan kebiasaannya mengingat hampir mustahil menemukan teman yang bisa melewatkan jam istirahat tanpa makan sesuatu.

Penerimaan saya saat pertama kali membaca kalimat tersebut: si tokoh punya keterampilan mengingat yang baik.

Setelah saya baca ulang, kalimat tersebut terasa punya makna lain jika ditambah tanda koma sebagai jeda : Bukannya sombong, hanya saja tidak ada yang bisa beradaptasi dengan kebiasaannya(,) mengingat hampir mustahil menemukan teman yang bisa melewatkan jam istirahat  tanpa makan sesuatu.

Maknanya, orang-orang tidak bisa berteman dengan tokoh karena dia jarang ke kantin, padahal waktu istirahat adalah waktu yang sayang untuk dilewatkan dalam mengisi perut.

Belakangan, saya paham bahwa maksud kalimat tersebut adalah tentang kemampuan mengingat tokoh Judy yang lebih baik dibanding kakaknya.

Saran perbaikan agar tidak ambigu: Bukannya sombong, hanya saja tidak ada (seorang pun) yang bisa beradaptasi dengan kebiasaannya (dalam) mengingat(sesuatu/ hal random) (secara tiba-tiba), (sehingga) hampir mustahil menemukan teman yang bisa melewatkan jam istirahat tanpa makan sesuatu.

Saya melihat masih ada beberapa kata tidak baku seperti “mempesona”>> memesona, “nampak”>> tampak, dan “frustasi”>> frustrasi.

Selanjutnya, masih banyak terdapat kata-kata yang terlampau panjang, tidak diiringi konjungsi yang tepat, sehingga saya pribadi merasa ‘ngos-ngosan’ saat membacanya.  Jika dimaksudkan untuk mempercepat tempo cerita, tentu akan sangat dimaklumi, tapi saya rasa bahwa kalimat panjang dalam naskah ini masih bisa dijadikan satu paragraf utuh, dengan memotongnya dalam beberapa kalimat.

Saya ambilkan tiga contoh kalimatnya, nih.

Halaman 30.

‘Satu per satu mulai maju ke depan untuk menulis nama sendiri di bawah nama ketua kelompok sesuai urutan bangku selagi Jessie dihantui perasaan bimbang karena bingung harus memilih siapa.’

Ada 3 kalimat bertingkat di sana, sehingga membuat kalimat ini terasa begitu panjang dan tidak berjeda.

Saran perbaikan: Satu per satu penghuni kelas mulai maju untuk menulis nama masing-masing di bawah nama ketua kelompok sesuai urutan bangku. Sementara itu, Jessie yang duduk di bangku tengah merasa dihantui perasaan bimbang karena bingung memilih ketua kelompok yang akan belajar bersamanya.

Halaman88.

‘Tomari segera menarik Genta ke sisinya sementara Judy merebut buku catatan yang dipegang Billy dengan tenaga yang tidak perlu, sehingga untuk sesaat cowok itu sempat terhuyung.’

KembaIi, ada 3 kalimat bertingkat di sana yang bisa dipecah menjadi beberapa kalimat pendek yang lebih “penuh”.

Saran perbaikan: Tomari segera menarik Genta ke sisinya, sementara Judy merebut buku catatan yang dipegang Billy dengan cepat dan tanpa aba-aba. Tindakan gadis itu jelas membuat Billy kaget, sehingga untuk sesaat, cowok itu sempat terhuyung.

Halaman 103.

“Dikarenakan Genta sudah berada di tahun terakhir di sekolah, keaktifannya sebagai anggota OSIS telah berkurang dibanding sebelumnya, terkecuali Rinto meminta bantuannya secara khusus, seperti hari ini, yaitu demi kepentingan acara pentas seni atau yang disingkat pensi.”

Saran perbaikan: “Genta yang telah memasuki tahun terakhir di sekolah, tentu saja harus mengurangi keaktifannya sebagai anggota OSIS. Ia akan turut membantu bila Rinto memintanya secara khusus seperti hari ini, demi lancarnya acara pentas seni atau pensi.”

Hal yang saya pahami, untuk paragraf awal dalam cerita,usahakan menggunakan kata kerja aktif pada kalimat pertamanya, bukan kata kerja pasif, meski secara teknikal tidak salah. Baru nanti kalimat ke dua dan seterusnya, gaya bercerita bisa disesuaikan.

• Pesan dan Value yang Menarik dari Perfect Siblings

Terlepas dari semua catatan untuk penulis yang telah saya bahas sebelumnya, novel PerfectSiblings termasuk salah satu buku yang bisa kamu koleksi di rumah. Ada banyak hal positif yang bisa diambil pembaca ketika dihadapkan dengan realitas tentang kesempurnaan dalam diri seseorang.

Selain itu, banyak pesan tersurat dan tersirat dalam novel satu ini. Saya kutipkan beberapa poin, ya.

Halaman 74.

“Nggak ada yang sempurna di dunia ini termasuk kepintaran karena sifatnya berkesinambungan. Artinya harus diasah sesuai perkembangan zaman.”

Halaman 94, terdapat kalimat bijak Rinto yang seolah-olah menyemangati anaknya, padahal sebenarnya hanya ocehan bercanda. Meski begitu, pesannya sampai dengan baik.

“Masa depanmu masih jauh, Nak. Bapak akan selalu mendukungmu. Yang penting jangan terlalu paksakan diri, ya. Karena yang namanya kemampuan itu ada batasnya. Kamu tidak bisa memaksakan sesuatu yang tidak bisa kamu capai. Ingat itu, Nak.”

Halaman 105.

‘Keberanian akan tumbuh seiring bertambahnya rasa percaya diri.’

Halaman 134.Tomari membalikkan kata-kata Judy yang diucapkannya sendiri.

“Tiap orang pasti punya rahasia yang nggak berani diceritakan ke orang lain. Asalkan tidak merugikan dan mengganggu orang lain, menurut gue semua orang berhakpunya rahasia.”

Untuk pesan tersiratnya, saya bisa menangkap seperti ini dalam sepanjang cerita.

1.    Berusahalah jujur pada perasaanmu sendiri. Senang, sedih, dan rentetanemosi yang terjadi pada manusia itu harus diekspresikan. Jangan dipendam, nanti malah jadi penyakit.Hehehe.

2.    Kesempurnaan itu milik semua orang. Cara melihatnya yakni dengan penerimaan diri, kepercayaan diri, dan keberanian.

3.    Kadang, perasaan khawatir dan gelisah bisa mendominasi seseorang dalam titik tertentu. Namun, sejatinya perasaan seperti itu akan lebih mudah dikendalikan dengan mengubah sudut pandang dan menempatkan mindset positif yang dilatih terus-menerus.

• Penilaian Subjektif untuk Novel Perfect Siblings

Melihat dalam keseluruhan pembangunan plot, saya merasa bahwa penulis sudah cukup baik dalam showing dan telling dalam bercerita. Karena keseimbangan teknik itu, penulis mampu menggiring pembaca untuk bisa membayangkan visual nyata adegan per adegan yang dijelaskan. Hanya saja, terkadang proses telling yang disampaikan terlalu detail, sehingga terkesan terlalu dipaksakan.

Buat saya pribadi, saya menikmati cara penulis bercerita, karena pilihan diksi yang digunakan pun variatif, sehingga tidak monoton saat dibaca.Bahkan ada twist yang terjadi, tapi saya gagal mengenalinya pada awal cerita. Saya ini tipe pembaca yang biasanya akan mencari-cari peluang twist yang akan disajikan selama membaca. Namun, karena terlalu asik menikmati ceritanya, twist yang disajikan jadi terasa ‘boom’ padahal bukan sesuatu yang menghentak banget. Apa tuh? Baca sendiri, ya!

Celetukan dan permisalan yang ditulis dalam menghadapi semua situasi juga mengandung humor tipis-tipis, sehingga pembaca bisa tertawa karenanya. Saya merasakan itu dalam beberapa part cerita di dalamnya.

Saya suka pemilihan nama tokoh yang benar-benar dipikirkan penulis: Judy Meline, Jessy Mayline, Genta Harvey, TomariShinou, John Piter (guru), dan teman-teman pembuli Genta yang punya nama tak biasa, Billy Lauren Febrian, Jason Effendy, dan Alvino Surya Purnama. Nanti aku comot buat nama anakku selanjutnya, boleh, kali, ya? Hehehe.

Hal lain yang menarik, penulis menggunakan POV 3 terbatas, bukan POV 3 serba tahu. Penulis menyampaikan narasi-narasi terkait kemungkinan perasaan tokoh yang tidak diketahui narator sebagai pencerita. Hal ini membuat para pembaca jadi menebak-nebak reaksi tokoh selanjutnya.

Meski terkadang, pemilihan POV ini berdampak pada teknik penceritaannya, saya merasa bahwa penulis berusaha dengan baik untuk membuat pembaca bisa merasakan emosi-emosi tokoh di dalamnya. Penulis bisa menyajikan karakter yang berbeda pada tiap tokohnya, sehingga pembaca pun dapat mengidentifikasi tokoh berdasarkan caranya berpendapat, caranya menghadapi masalah, serta cara mereka bertanggung jawab dalam menyelesaikan masalah.

Ending yang disajikan masuk kategori close ending, sehingga pembaca pun merasa “selesai” ketika menutup novel ini pada halaman terakhir. Novel ini cocok buat healing akhir pekan sambil menikmati camilan dan teh hangat, sebelum memulai aktivitas kembali pada awal minggu.

Saya beri nilai 7,7/10 untuk novel Perfect Siblings.

•Closing Statement from me

Menulis adalah cara bicara yang tidak langsung, tetapi punya dampak baik untuk para pembacanya. Hal ini juga jadi cara bagi penulis untuk mengeluarkan pendapat, keresahan, dan hal-hal yang menggaung dalam pikiran. Ada satu quote yang saya rasa bisa melengkapi novel ini karena cukup relate.

“Cinta tumbuh bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan kemampuan menerima kelemahan-kelemahan orang itu secara sempurna.” (Kahlil Gibran)

The last but not least, meski bukan pemenang di Parade, tapi naskah Perfect Siblings menjadi pemenang di hati para fansnya. Terbukti dari sematan logo Best Seller di bukunya. Ini jadi sebuah poin plus tersendiri untuk Yunita Chearrish sebagai penulisnya yang tak lelah branding, sehingga buku ini punya penjualan di atas rata-rata.

Good job for your goodbook, Kak Yunita!!

#9ThLovRinzGrowthtobeGreat #menulisselagimuda #ChallengeFotoBukuLovRinz

 

 





Jumat, 08 September 2023

Realitas Pendidikan dari Sebuah Kisah di Madrasah Kamilah

Halo, teman-teman, udah lama banget aku gak nge-review buku, ya. Kali ini aku akan bikin ulasan bukunya Lif Kalami aka Eneng Susanti. Check this out ya!

• Identitas Buku

Judul : Benderang Kelam

Penulis: Lif Kalami

Tahun Terbit: 2022

Penerbit: LovRinz Publishing

ISBN : 978-623-5945-85-9

• Sinopsis Ringkas

Buku ini menceritakan tentang perjuangan seorang guru muda di tanah asing yang belum pernah dijamahnya. Drea Diantha harus memulai sebuah misi untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi di Madrasah Kamilah, tempat ia mengajar. Teka-teki yang berserakan harus bisa ia selesaikan serupa bermain puzzle agar ada kejelasan.

Beragam konflik membuat Drea dilema dan ingin menyerah, tapi Kartu As dari Kepala Madrasah Kamilah membuat gadis itu tetap bertahan dan berusaha mencari tahu kebenaran yang belum terungkap. Rupanya, ada benang merah yang terhubung antara keluarganya dan Madrasah Kamilah. Apa ya? Baca sendiri aja, deh!

• Opening Cerita

Pembuka kalimatnya menarik, dimulai dengan paragraf yang cukup nyaman dibaca. 

“Langit kelabu terlihat sendu di balik jendela kamar seorang guru. Rintik hujan membuat kacanya buram. Pandangan dia mengembun dibalut bimbang.”

Das-des! Kalau nggak baca blurb, pembaca akan langsung tahu bahwa ini adalah kisah seorang guru, ditambah jika mengamati cover-nya yang merupakan gambar seorang perempuan berhijab dengan seragam motif khas seorang pengajar. 

Satu paragraf pembukanya sudah cukup untuk membuat saya membaca paragraf selanjutnya.

Cerita dimulai dari teka-teki penemuan jasad seorang guru senior di lokasi tempat sang tokoh utama mengabdi. Drea yang baru saja tiba di Madrasah Kamilah harus menghadapi permasalahan sejak kedatangan di kobong, Persada Hilir. Pada awal bab, penceritaan penokohannya sudah baik. Hanya saja, saya merasa bahwa segala informasi pembuka itu terlalu banyak di bab satu, sehingga terkesan dump info. 

Meski begitu, bagi saya itu bukan sebuah masalah yang berarti karena itu juga akan membantu pembaca untuk lebih mengenal karakter tokoh-tokoh di dalamnya dengan lebih baik, serta menelaah kisah dengan lebih mudah.

• Ide dan Tema Cerita

Menjadi seorang pengajar dengan fasilitas seadanya dan punya gaji yang pas-pasan adalah salah satu hal yang disorot dalam buku ini. Dapat saya katakana, Benderang Kelam merupakan naskah yang menyajikan sebuah cerita berbalut fakta tentang kehidupan guru yang tidak selalu menyenangkan, apalagi jika berkaitan dengan perkara finansial.

Agaknya, jika mau dibandingkan, pilihan untuk menjadi seorang guru jelas akan terasa gap-nya jika dibandingkan dengan pengusaha dari segi pendapatan harian atau bulanan. Meski demikian, penulis bisa menyampaikan ide ini dengan baik tanpa tendensi menyinggung pihak-pihak yang terkait.

• Catatan untuk Penulis

Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan naskah Benderang Kelam. Saya menemukan beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan catatan untuk penulis selanjutnya.

Pada halaman 4

“Namun, Drea yakin, semua orang yang mengenal Pak Hilman semasa hidupnya, pasti menyimpan simpati kepada wanita malang yang berubah pikiran setelah gagal menikahi kekasihnya itu.”

Menurut saya, penggunaan kata “berubah pikiran” pada paragraf tersebut kurang tepat, karena penggambaran kata itu bisa bermakna plin-plan dan tidak teguh berpendapat. Padahal, maksud dari uraian itu adalah “perempuan yang kehilangan akal” atau “kurang waras” jika ditilik dari beberapa lanjaran-lanjaran sebelumnya.

Masih ada penggunaan kata yang kurang tepat seperti penggunaan kata “mendengus” pada tokoh-tokohnya. Sependek pemahaman saya, kata “mendengus” ditujukan untuk binatang, sedangkan untuk manusia, penggunaan yang tepat adalah “mendengkus”. CMIIW.

Masih juga terdapat beberapa penggunaan kata “namun” pada tengah kalimat. Padahal, kata ganti “tapi, tetapi” bisa digunakan. Kata “namun” ditujukan untuk pembuka kalimat, yang fungsinya bertentangan dengan kalimat sebelumnya.

Beberapa kesalahan typo juga ada, seperti kata “di dekati” di halaman 70 dan “di infus” pada halaman 155. Kata tersebut seharusnya disambung, bukan dipisah, karena merupakan kata kerja pasif.

Saya juga menemukan penulisan dialog tag yang masih menggunakan kapital. Penulisan dialog tag, seharusnya menggunakan huruf kecil saja. Kesalahan ini ada pada halaman 70.

Ada beberapa kata tak baku seperti “ijin”>> izin, dan “respon”>>respons. Meski begitu, kesalahan tipis-tipis ini masih bisa diperbaiki untuk naskah selanjutnya.

• Penilaian Pribadi untuk Benderang Kelam

Untuk sebuah karya perdana, penulisan Lif Kalami dalam naskah Benderang Kelam sudah rapi. Hanya kurang sempurna pada beberapa bagian yang telah saya ulas sebelumnya. Naskah ini juga mencakup semua unsur penceritaan dalam novel, sebagaimana yang saya pelajari dan saya terapkan pada novel-novel saya. Konfliknya dapat, klimaksnya ada, plot twist-nya oke. 

Hanya saja agak terasa berbelit-belit pada 10 bab pertama, tapi mulai terasa seru pada pertengahan cerita. Klaim sebagai naskah thriller romance dalam naskah ini, saya merasa kurang mewakili ceritanya. 

Ketegangan yang disajikan belum benar-benar dapat dinikmati sebagai novel thriller, apalagi romansa. Porsi romance dalam cerita ini hampir tak terlihat kecuali di akhir naskahnya. Meski begitu, cara penulis dalam membuat konflik, pertautan satu tokoh dan tokoh lainnya, karakter yang mewakili masing-masing tokoh, hingga konklusinya sudah cukup baik. 

Unsur teka-teki dalam cerita ini memang ada, tetapi bukan bagian yang mendominasi cerita secara menyeluruh. Sebenarnya, penulis sudah cukup baik dalam melakukan pacing cerita, sehingga pembaca tak melulu dibuat tegang atau geram dengan situasi-situasi yang tak menyamankan dalam cerita. Saya bahkan beberapa kali tertawa, amarga Lif Kalami bisa menyelipkan humor-humor ringan di dalamnya.

Penulis cukup mahir memainkan kata, sehingga pembaca juga dimanjakan dengan deretan kosakata yang “penuh” tapi nggak lebai. Pas. Gayanya ini hampir sama dengan tulisan-tulisan saya, setipe. Hehehe.

Eksekusi ending juga terlihat manis. Semua permasalahan dan dilema yang dihadirkan sepanjang cerita pun mendapatkan muaranya masing-masing. Ending yang selesai adalah ujung yang sangat logis untuk menutup cerita ini.

Saya memberi nilai 7,6 dari 10 untuk Benderang Kelam.

• Kutipan Menarik dari Benderang Kelam

Menulis adalah salah satu upaya untuk menyampaikan kritik secara tersirat dan tersurat. Hal itu juga saya dapati dalam buku satu ini. Ada beberapa kutipan percakapan yang menyentil, bahkan membuat saya mengangguk setuju, juga tertawa getir karenanya. Apa aja, sih?

Pada halaman 14-15:

Tidak mudah menembus institusi bernama sekolah. Beberapa kali Drea melamar ke sana kemari, hasilnya nihil. Nilai sempurna di ijazah seakan tidak berharga. Tenaga dalam Drea berupa niat dan semangat, rupanya dikalahkan oleh tenaga orang dalam.

Pada halaman 38:

“Bersikap baik, dibilang sok suci. Bersikap benar, dibilang sok pahlawan. Bersikap profesional, dibilang cari muka. Harusnya bagaimana?” Tidak disangka, pekerjaan yang dicita-citakannya ini menjerat Drea dalam pusara dilema.

Pada halaman 91:

“Pahlawan adalah orang yang beraksi membela kebenaran, bukan memakai pembenaran untuk melakukan kejahatan.”

Pada halaman 104, terdapat kontemplasi dari pandangan Drea sebagai seorang guru.

Mungkin mereka memang pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, sepertinya mereka lebih butuh kesejahteraan dibandingkan sebuah gelar kehormatan yang tak lebih dari sebuah slogan. Mungkin mereka memang ikhlas beramal. Namun, ikhlas itu bukan berarti mereka pantas untuk tidak digaji berbulan-bulan.

Pada halaman 132:

“Cita-cita mulia pendidikan, mencetak generasi yang berakhlak mulia, dapatkah dimulai dari sebuah lembaga yang penuh dengan kecurangan? Mengapa di dunia yang seharusnya menyajikan Cahaya terang justru mendekam kelam yang benderang?”

Dari kutipan ini, saya jadi paham mengapa judul yang dipilih penulis adalah Benderang Kelam. Ada sebuah paradoks yang hendak di suarakan dari sana.

• Penutup Ulasan

Untuk menutup ulasan ini, saya jadi teringat lagu Hymne Guru yang kerap dinyanyikan di Hari Guru tiba.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

S'bagai prasasti t'rima kasihku 'tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Pembangun insan cendekia

Naskah Benderang Kelam agaknya dapat dikatakan sebagai “curhat terselubung” yang berhasil dilakukan Lif Kalami. Maka, dari cerita ini, saya jadi lebih yakin bahwa menulis adalah sebuah obat bagi siapa saja. Tujuan penulis untuk melakukan hal-hal baik agar segala masalah di dunia pendidikan dapat lebih benderang seperti lagu Hymne Guru di atas, bagi saya sudah baik.

Gimana memulai untuk menulis? Tulislah sesuatu yang dekat denganmu. Tulislah hal-hal yang meresahkan hatimu. Tulislah semua elemen yang bisa membuat pembaca punya perspektif baru setelah membaca karyamu. Itulah yang penulis lakukan dalam naskah satu ini.

Good job, Lif Kalami! You did it!

#9ThLovRinzGrowthtobeGreat #menulisselagimuda #ChallengeFotoBukuLovRinz


Rabu, 14 September 2022

Menghadirkan Buku Cetak di Tengah Gempuran Literasi Digital: Seni dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Informasi Kekinian

Literasi digital menjadi salah satu kosa kata baru yang kini menjamah ke bagian informasi dan pengetahuan yang lebih kekinian. Literasi digital memungkinkan seseorang untuk bisa mendapatkan hal-hal up to date hanya dengan sekali klik jari. Adanya literasi digital juga menjadi perpanjangan tangan dari perkembangan dunia online yang kini menguasai sebagian besar lini kehidupan.

Menulis dan menghasilkan karya, kemudian menjadikannya sebagai salah satu bagian dari literasi digital juga bisa dilakukan. Kini, buku tak hanya berbentuk naskah cetak yang diterbitkan, melainkan juga dikembangkan sebagai salah satu bacaan yang ramah teknologi dengan bentuk e-book dan lainnya.

Perkembangan Literasi Digital

Berkembangnya ranah digitalisasi buku ini, tentu memberikan efek untuk perkembangan penerbitan yang mengeluarkan buku cetak. Meski masih ada beberapa orang yang lebih senang membaca buku fisik, tetapi keberadaan platform penulisan digital punya porsi yang lebih banyak menyita perhatian para pembaca. Terlebih lagi, penjualan untuk ebook punya harga yang lebih miring dibandingkan buku fisik.

Keunggulan Buku Cetak Dibandingkan Buku Digital

Meski demikian, buku cetak atau buku fisik masih memiliki keunggulan dibandingkan jenis buku digital. Berikut ulasan selengkapnya.

Aroma Khas Buku Baru

Nuansa “bau kertas” yang ada dalam sebuah buku baru menjadi salah satu hal yang dicari pembaca. Wangi buku menjadi salah satu hal yang bisa menaikkan mood untuk sebagian orang. Ada kepuasan tersendiri jika seseorang bisa menyelesaikan setengah dari halaman buku karena bisa dipantau secara kasat mata. Hal tersebut tak bisa dilihat jika membaca buku digital, bukan? Baca buku novel, sejarah, atau apapun, tentu akan baik untuk kinerja otak.

Buku Bisa Menjadi Barang Koleksi

Buku merupakan benda fisik yang bisa dijadikan koleksi bagi pemiliknya. Bagi pecinta membaca, buku serupa rumah yang akan jadi tempat pulang ketika lelah melanda. Tentu akan terasa bedanya ketika membaca buku digital dengan buku fisik. Ragam buku yang dimiliki juga bisa dijadikan tolok ukur pencapaian terkait materi dan ilmu pengetahuan baru yang sudah dibaca dan dipelajari. Dapat dikatakan bahwa buku adalah investasi ilmu leher ke atas yang sangat penting untuk manusia.

Ada Nilai Sejarah dalam Buku Fisik

Buku fisik yang dimiliki tentu memiliki kenangan dan nilai sejarah tersendiri bagi pemiliknya. Kamu bisa mengenang satu buku mulai dari kisahnya, cara mendapatkannya, jatuh bangun perjuangan membelinya, dan lainnya. Selain nilai sejarah dari konten buku, nilai kenangan dari upayamu untuk bisa memilikinya tentu akan jadi memori yang bisa diceritakan kapan saja bagi mereka yang bertanya.

Tak Butuh Baterai saat Membaca

Tak seperti buku digital yang hanya bisa dibaca melalui ponsel atau alat bantu lainnya, buku fisik jelas tak butuh baterai. Kamu bisa membolak-balik halaman sesuka hati, mengulang kembali materi bacaan yang diinginkan. Buku fisik tentu tak seribet buku digital karena kamu harus scroll di halaman tertentu.

Mudah dalam Memberikan Catatan

Buku fisik akan lebih mudah dipelajari dan kamu tak akan repot untuk memberikan catatan tertentu di sana. Bisa menggunakan stabilo atau sticky notes untuk menandai halaman tertentu. Dengan membaca buku cetak, kamu pun akan lebih mudah untuk bisa memahami kata per kata, kalimat per kalimat di dalamnya.

Biasanya untuk membaca buku digital kamu akan terhalang dengan mata yang lelah karena radiasi gadget yang ditimbulkan. Belum lagi baterai habis dan butuh dicas ulang. Maka, pilihan untuk membaca buku versi cetak masih kerap jadi pilihan para pembaca.

Buku Fisik: Seni Mengembangkan Ilmu Pengetahuan Kekinian

Bukankah kalimat di atas terasa lebih cocok jika digunakan sebagai tagline buku digital? Memang pada dasarnya perkembangan buku digital kini makin merebak di tengah pasar peminat gadget kekinian. Namun, keberadaan buku cetak sebagai sarana mengembangkan ilmu pengetahuan kekinian pun tak bisa ditampik.

Contoh kecil dalam pembelajaran bersama anak-anak usia dini, yang menggunakan buku fisik sebagai salah satu alat pembelajaran di sekolah. Dibandingkan buku digital, pemanfaatan buku fisik jelas lebih unggul. Anak-anak pun akan lebih fokus pada pembelajaran karena bantuan buku cetak di depan mata.

Berdasarkan keunggulan-keunggulan di atas, para penerbit seharusnya tak perlu insecure dengan bisnis yang dijalankan. Dari sekian banyak orang yang beralih ke literasi digital, pasti akan ada orang-orang yang tetap mencintai buku cetak atau buku fisik sebagai teman nge-teh di sore hari atau untuk mengisi waktu luang mereka.

Untuk memenuhi hal tersebut, maka penerbit buku memang wajib mengeluarkan inovasi agar para penulis bisa mempercayakan naskah mereka dengan tenang dan nyaman. Salah satu penerbit rekomendasi yang bisa kamu jadikan referensi adalah Penerbit LovRinz Publishing.

LovRinz Publishing, Penerbit yang Ramah Penulis

Tagline utama dari Penerbit LovRinz adalah terbit mudah, cepat, menyenangkan. Penerbit satu ini memang jadi rumah yang hangat untuk penulis pemula. Tak heran bila banyak penulis menjadikan LovRinz sebagai salah satu rumah ternyaman untuk menerbitkan buku-buku mereka. Penerbit satu ini juga memiliki percetakan yang punya kualitas kertas yang mumpuni dan cukup tebal.

Ada banyak keunggulan yang LovRinz tawarkan sebagai penerbit. Di antaranya beragam event menulis parade, event mingguan, hingga terbit gratis. Salah satu pengalamanku ikut jadi bagian keluarga besar LR adalah ketika ikut beberapa event di dalamnya. Empat buku dari tujuh karya soloku terbit di LovRinz, pun karena ikut event dan parade selama prosesnya.

Naskahku berjudul Cermin Lara merupakan hasil parade nulis novel selama 30 hari yang diadakan LovRinz sekitar bulan Agustus-September 2021 bertajuk KuPa5 (Aku Peserta Parade 5). Dinobatkan sebagai salah satu naskah terbaik dari sekitar 30 naskah yang bertahan sampai final, tentu menjadi kebanggaan tersendiri.

Naskah berjudul Aglet merupakan hasil parade Event Couple LovRinz yang bekerja sama dengan suami tercinta. Sedangkan untuk naskah berjudul The Chronos ikut dalam event Ramenuku (Rame-Rame Nulis Buku) Duet yang juga aku lakukan bersama suami. LovRinz membuka kesempatan untuk aku pribadi punya bonding yang lebih dekat dengan suami, meski kami sedang LDR.

Selanjutnya, naskah sekuel Cermin Lara hadir dengan tajuk Binar Luka Lara diikutsertakan dalam Baper5eru yang diadakan satu tahun setelah novel pertama terbitan LovRinz mengudara. Rangkaian kegiatan pun masih terus berlanjut, hingga event yang terbaru kemarin bertajuk Parade Cerpen Sastra. Di dalam kegiatan tersebut, LovRinz menghadirkan cerpenis dan sastrawan nasional yang memberikan ilmu dari pertemuan zoom, sekaligus bertugas sebagai juri event.

LovRinz totalitas dalam memberikan wadah untuk para penulis agar mendulang beragam informasi baru dan bisa jadi penerbit yang punya kualitas unggulan di kelasnya. Hal itu sejalan dengan visi owner-nya, Bunda Rina Rinz yang punya tujuan mulia dalam mengembangkan literasi di kancah yang lebih luas, yakni “Mewujudkan Keberlimpahan, Kebahagiaan, dan Kesuksesan Penulis Indonesia.”

Keren sekali, ‘kan, penerbit satu ini?

 

Banjarnegara, 14 September 2022

 

 


Sumber Referensi

https://binus.ac.id/knowledge/2019/12/apakah-buku-cetak-masih-diminati-buku-cetak-vs-buku-digital/

https://yoursay.suara.com/lifestyle/2021/12/28/121236/4-kelebihan-buku-fisik-daripada-e-book-kamu-pilih-mana