Assalamualaikum, teman-teman. Kali ini aku mau bahas buku yang akan membahas tentang ibu, berjudul Hush Little Baby. Buku ini udah lama sliweran di Tiktok, kepincutlah buat beli karena harganya cuma setara dua mangkok bakso reguler!
***Identitas Buku
Judul: Hush Little Baby : “Jika aku tidak punya ibu, bagaimana aku bisa menjadi seorang ibu?”
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 325 halaman
***Ringkasan Cerita
Kisah ini menceritakan tentang Ruby, seorang ibu yang berusia 30 tahun, yang mengalami depresi pascamelahirkan anaknya, Gendhis. Meski diberikan support system yang luar biasa oleh Rajata, suaminya yang kaya raya lagi penyayang, Ruby masih tetap mempertanyakan kelayakannya sebagai seorang ibu. Hal itu menjadi pemicu beberapa konflik di dalamnya, termasuk dengan ibu mertua dan baby sitter-nya. Semakin digali lebih jauh, rupanya ada benang merah trauma Ruby itu dengan sang ibu yang juga sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Apakah Ruby akhirnya bisa berdamai dengan dirinya? Kalian bisa membacanya sendiri agar tahu jawabannya.
***Teknis Penceritaan dalam Hush Little Baby
Ada beberapa poin yang aku cermati saat membaca naskah ini. Secara teknis penceritaan, Hush Little Baby sudah komplit dalam mendedah sebuah kisah secara menyeluruh dan selesai. Tidak ada scene yang dipaksakan hadir, semuanya sudah pas sesuai takaran, tanpa ada kepingan-kepingan kisah yang hendak menonjol satu sama lain.
Pertama, Opening Cerita
Kisah dibuka dengan PoV aku Ruby yang sedang dalam perawatan di rumah sakit. Pada bab awal, perkenalan yang dijejalkan masih standar. Tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak terlalu lambat. Penonton diajak berkenalan dengan si tokoh secara perlahan-lahan. Dengan penggunaan Deep PoV, naskah ini membuat kisah yang saling berkelindan apda tiap babnya.
Kedua, Karakterisasi Tokoh Utama
Menggunakan PoV 1 aku, penulis menjabarkan semua hal yang terjadi pada tokoh Ruby dari sudut pandang penceritaannya. Tidak ada kebocoran PoV dalam naskah ini, sehingga semua alur yang terjalin di dalamnya cukup rapi dan mudah dipahami. Apalagi dengan deskripsi lima indera, plus dengan pilihan diksi yang ciamik, membuat naskah ini sangat terasa dekat dengan pembaca karena ikut merasakan emosi yang tertulis dengan sangat baik.
Ketiga, Lompatan PoV dalam Cerita
Penulis menggunakan lompatan PoV antara aku di usia 15 tahun dan aku di usia 30 tahun. Keduanya tampak saling mengisi, sehingga pembaca pun akan merasa bisa memahami si tokoh aku dengan latar belakang yang berpengaruh pada sikap dan sifatnya di masa sekarang. Dengan langkah penceritaan yang demikian halus, pembaca diminta untuk “percaya” kepada si tokoh sampai akhir, sehingga twist yang dihadirkan pun tidak terasa terlalu memaksa.
Keempat, Konflik dan Alur Cerita
Mengangkat tema post partum depression, naskah ini berkonflik sekitar perasaan emosional Ruby sebagai tokoh utama, kemudian diselipkan dengan masalah-masalah di sekitarnya yang masih cukup relevan sebagai isu sosial seperti kelahiran normal vs sesar, ibu pekerja vs ibu rumah tangga, dan peran sosial seorang ibu setelah resmi melahirkan anak. Hal ini bisa menjadi refleksi singkat yang cukup menyentil pembaca secara tidak langsung.
Kelima, Ending
Dari serangkaian cerita di dalamnya, aku sangat menyukai ending naskah ini. Tidak menggantung, tidak menyimpan pertanyaan yang belum terjawab, sehingga naskah ini bisa dikatakan “selesai” saat menutup lembar terakhirnya. Sebagai pembaca, saya bisa memahami kondisi dan alasan para tokohnya di dalamnya dalam melakukan tindakan-tindakannya. Hal itu tentu tak lepas dari cara penulis yang lincah menyajikan cerita yang logis dan berterima nalar.
***Plot Twist dalam Cerita
Ada beberapa tebaran petunjuk yang dilempar ke pembaca dalam bab-bab menjelang akhir. Ada dua petunjuk yang berhasil “aku makan”, sehingga twist-nya tidak terlalu terasa nendang. Aku bisa menebaknya dengan benar, doong!
Namun, ada satu twist ending yang benar terasa mengagetkan saat mendapatinya. Ekspresiku hanya, ‘Lhooh, kok bisa? Luput dari pengamatan!” Padahal aku termasuk pembaca yang cukup jeli mencermati petunjuk twist-nya. Jadi, meski aku bisa ‘membaca’ dua twist yang disajikan penulis, aku merasa tetap kecolongan dengan akhir ceritanya.
Kalau kamu termasuk pembaca yang demen twist berlapis, silakan baca novel satu ini. Dijamin nggak bakalan nyesel!
***Poin Post Partum Depression dalam Cerita
Ada beberapa poin yang dimasukkan penulis tentang gejala PPD (Post Partum Depression) yang terjadi dalam diri Ruby. Mungkin, hal ini akan dianggap spoiler cerita, sehingga teman-teman yang belum baca, bisa skip bagian ini, ya. Aku hanya akan mengutipkan beberapa kalimat teks dalam buku yang menurutku masuk dalam poin post partum depression yang ingin disampaikan penulis. Apa aja, ya?
Pertama, perasaan denial bahwa dirinya sakit.
“ “Kamu pikir aku gila?”
“No!” Rajata menyentuh bahuku, berusaha membuatku rileks, “... cuma ngobrol aja, siapa tahu psikolog bisa membuatmu lebih baik, mereka punya ilmunya, kan?”
“Sebaiknya kamu kembali ke kantor,” jawabku kering. “Aku baik-baik saja.”
“Oke, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, aku cuma ….”
Aku waras.
Aku tidak gila.
Aku bukan ibuku.
“Stop! Aku baik-baik saja!” ”
Kedua, mood swing yang terlalu mendadak.
Perasaan Ruby saat menjadi ibu mudah berubah. Sebentar tertawa, sebentar menangis, bahkan sempat hendak menenggelamkan Gendhis dengan dalih ingin mendiamkannya sebagaimana di dalam rahim yang penuh dengan air. Ruby sangat terobsesi dengan air selama masa depresinya, dia juga sempat berendam di bath tub saat upacara aqiqah Gendhis tanpa peduli orang-orang di sekitarnya yang sedang mencarinya.
Ketiga, adanya pikiran berbahaya jika melihat bayi
“Tanganku bergerak sendiri. Meski masih gemetaran, aku mencoba menopang leher dan pinggangnya. Kupindahkan dia ke gendonganku. Sebuah perasaan aneh membanjiriku. Membuatku tak terkendali.
Ini kesempatanku. Aku bisa membekapkan selimut itu ke mulutnya. Atau kubanting saja dia ke tanah hingga pecah kepalanya. Atau ku tenggelamkan saja ke kolam ikan yang ada di taman itu. Jika dia mati, mereka akan merasakan apa yang kurasakan.”
Keempat, merasa benci atas perannya sebagai seorang ibu.
“Seharusnya, kuangkat saja rahimku atau memotong tuba fallopy. Apa pun itu, yang pasti aku tidak perlu hamil seperti ini. Namun, bagaimana mungkin? Disuntik saja membuat tubuhku panas dingin, apalagi harus operasi. Butuh biaya besar. Pemulihan lama. Dan, tentu saja, tak bisa kulakukan di belakang Rajata.
Aku tidak mau jadi ibu.”
***Relevansi Cerita dengan Pengalaman Pribadi
Saat membaca naskah ini, aku jadi ingat beberapa moment saat kehamilan dan melahirkan yang punya cerita hampir sama. Rasa mual muntah di awal kehamilan, dijabarkan penulis dengan sangat detail dan apik. Saat proses melahirkan dan anak perlu diinkubator selama seminggu saat aku melahirkan Rendra, anak sulungku, juga hampir sama dengan cerita Ruby. Rasa patah hati karena belum bisa menyusui, asi nggak keluar, perlekatan belum benar, rasa bengkak yang menyiksa karena tidak maksimal selama menyusui, membuatku punya rasa simpati yang tak bisa kujelaskan kepada tokoh Ruby.
Penulis tidak berupaya terlalu keras untuk membuat pembaca mengerti, sehingga karakter Ruby yang dihadirkan di dalamnya pun seolah punya kemauan tersendiri yang bisa dipahami pembaca yang pernah hamil, melahirkan, dan menyusui. Ini adalah salah satu poin plus yang kupelajari juga sebagai penulis agar bisa menyajikan cerita yang filmis dan menarik kepada pembaca.
***Catatan untuk Penulis
Buku ini dicantumkan label urban thriller di sampulnya. Namun, buat aku pribadi, eksekusi “urban thriller” masih kurang maksimal. Belum sampai di tahapan selalu bikin tegang dan punya page turner yang menarik, sehingga menurutku penerapan untuk genre urban thriller belum terlalu menonjol.
Kisah tentang kehidupan urban udah oke, hanya thriller-nya yang masih butuh lebih gong lagi. Aku nggak bilang ini jelek ya. Ini bagus banget secara konsep cerita. Jadi, kamu nggak perlu maju-mundur kalau mau beli dan baca!
***Closing Statement
Depresi pascamelahirkan adalah salah satu hal yang sangat rentan terjadi bagi seorang ibu. Oleh karena itu perlu adanya dukungan moral dan material yang diberikan dari lingkungan sekitar ibu melahirkan agar “rasa waras” itu tetap terjaga. Mood dan emosi ibu melahirkan sangat sensitif, sehingga perlu adanya filter dan tameng yang kuat dari suami agar ibu baru bisa tetap menikmati perannya tanpa kehilangan dirinya.
Bagiku pribadi, naskah ini sangat merepresentasikan kestabilan emosi seorang ibu di mata keluarga, lingkungan, bahkan di dalam prasangka dirinya sendiri. Aku pribadi pun banyak belajar tentang karakterisasi dan penyajian cerita dari naskah Hush Little Baby ini. Anggun Prameswari berhasil membawakan cerita yang indah dan related untuk para ibu yang membacanya.
Good job! Aku beri rate 4,7 dari 5 untuk naskah ini!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan komentar.... komentar dengan sopan... :D