Bismillah

Bismillah

Rabu, 14 September 2022

Menghadirkan Buku Cetak di Tengah Gempuran Literasi Digital: Seni dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Informasi Kekinian

Literasi digital menjadi salah satu kosa kata baru yang kini menjamah ke bagian informasi dan pengetahuan yang lebih kekinian. Literasi digital memungkinkan seseorang untuk bisa mendapatkan hal-hal up to date hanya dengan sekali klik jari. Adanya literasi digital juga menjadi perpanjangan tangan dari perkembangan dunia online yang kini menguasai sebagian besar lini kehidupan.

Menulis dan menghasilkan karya, kemudian menjadikannya sebagai salah satu bagian dari literasi digital juga bisa dilakukan. Kini, buku tak hanya berbentuk naskah cetak yang diterbitkan, melainkan juga dikembangkan sebagai salah satu bacaan yang ramah teknologi dengan bentuk e-book dan lainnya.

Perkembangan Literasi Digital

Berkembangnya ranah digitalisasi buku ini, tentu memberikan efek untuk perkembangan penerbitan yang mengeluarkan buku cetak. Meski masih ada beberapa orang yang lebih senang membaca buku fisik, tetapi keberadaan platform penulisan digital punya porsi yang lebih banyak menyita perhatian para pembaca. Terlebih lagi, penjualan untuk ebook punya harga yang lebih miring dibandingkan buku fisik.

Keunggulan Buku Cetak Dibandingkan Buku Digital

Meski demikian, buku cetak atau buku fisik masih memiliki keunggulan dibandingkan jenis buku digital. Berikut ulasan selengkapnya.

Aroma Khas Buku Baru

Nuansa “bau kertas” yang ada dalam sebuah buku baru menjadi salah satu hal yang dicari pembaca. Wangi buku menjadi salah satu hal yang bisa menaikkan mood untuk sebagian orang. Ada kepuasan tersendiri jika seseorang bisa menyelesaikan setengah dari halaman buku karena bisa dipantau secara kasat mata. Hal tersebut tak bisa dilihat jika membaca buku digital, bukan? Baca buku novel, sejarah, atau apapun, tentu akan baik untuk kinerja otak.

Buku Bisa Menjadi Barang Koleksi

Buku merupakan benda fisik yang bisa dijadikan koleksi bagi pemiliknya. Bagi pecinta membaca, buku serupa rumah yang akan jadi tempat pulang ketika lelah melanda. Tentu akan terasa bedanya ketika membaca buku digital dengan buku fisik. Ragam buku yang dimiliki juga bisa dijadikan tolok ukur pencapaian terkait materi dan ilmu pengetahuan baru yang sudah dibaca dan dipelajari. Dapat dikatakan bahwa buku adalah investasi ilmu leher ke atas yang sangat penting untuk manusia.

Ada Nilai Sejarah dalam Buku Fisik

Buku fisik yang dimiliki tentu memiliki kenangan dan nilai sejarah tersendiri bagi pemiliknya. Kamu bisa mengenang satu buku mulai dari kisahnya, cara mendapatkannya, jatuh bangun perjuangan membelinya, dan lainnya. Selain nilai sejarah dari konten buku, nilai kenangan dari upayamu untuk bisa memilikinya tentu akan jadi memori yang bisa diceritakan kapan saja bagi mereka yang bertanya.

Tak Butuh Baterai saat Membaca

Tak seperti buku digital yang hanya bisa dibaca melalui ponsel atau alat bantu lainnya, buku fisik jelas tak butuh baterai. Kamu bisa membolak-balik halaman sesuka hati, mengulang kembali materi bacaan yang diinginkan. Buku fisik tentu tak seribet buku digital karena kamu harus scroll di halaman tertentu.

Mudah dalam Memberikan Catatan

Buku fisik akan lebih mudah dipelajari dan kamu tak akan repot untuk memberikan catatan tertentu di sana. Bisa menggunakan stabilo atau sticky notes untuk menandai halaman tertentu. Dengan membaca buku cetak, kamu pun akan lebih mudah untuk bisa memahami kata per kata, kalimat per kalimat di dalamnya.

Biasanya untuk membaca buku digital kamu akan terhalang dengan mata yang lelah karena radiasi gadget yang ditimbulkan. Belum lagi baterai habis dan butuh dicas ulang. Maka, pilihan untuk membaca buku versi cetak masih kerap jadi pilihan para pembaca.

Buku Fisik: Seni Mengembangkan Ilmu Pengetahuan Kekinian

Bukankah kalimat di atas terasa lebih cocok jika digunakan sebagai tagline buku digital? Memang pada dasarnya perkembangan buku digital kini makin merebak di tengah pasar peminat gadget kekinian. Namun, keberadaan buku cetak sebagai sarana mengembangkan ilmu pengetahuan kekinian pun tak bisa ditampik.

Contoh kecil dalam pembelajaran bersama anak-anak usia dini, yang menggunakan buku fisik sebagai salah satu alat pembelajaran di sekolah. Dibandingkan buku digital, pemanfaatan buku fisik jelas lebih unggul. Anak-anak pun akan lebih fokus pada pembelajaran karena bantuan buku cetak di depan mata.

Berdasarkan keunggulan-keunggulan di atas, para penerbit seharusnya tak perlu insecure dengan bisnis yang dijalankan. Dari sekian banyak orang yang beralih ke literasi digital, pasti akan ada orang-orang yang tetap mencintai buku cetak atau buku fisik sebagai teman nge-teh di sore hari atau untuk mengisi waktu luang mereka.

Untuk memenuhi hal tersebut, maka penerbit buku memang wajib mengeluarkan inovasi agar para penulis bisa mempercayakan naskah mereka dengan tenang dan nyaman. Salah satu penerbit rekomendasi yang bisa kamu jadikan referensi adalah Penerbit LovRinz Publishing.

LovRinz Publishing, Penerbit yang Ramah Penulis

Tagline utama dari Penerbit LovRinz adalah terbit mudah, cepat, menyenangkan. Penerbit satu ini memang jadi rumah yang hangat untuk penulis pemula. Tak heran bila banyak penulis menjadikan LovRinz sebagai salah satu rumah ternyaman untuk menerbitkan buku-buku mereka. Penerbit satu ini juga memiliki percetakan yang punya kualitas kertas yang mumpuni dan cukup tebal.

Ada banyak keunggulan yang LovRinz tawarkan sebagai penerbit. Di antaranya beragam event menulis parade, event mingguan, hingga terbit gratis. Salah satu pengalamanku ikut jadi bagian keluarga besar LR adalah ketika ikut beberapa event di dalamnya. Empat buku dari tujuh karya soloku terbit di LovRinz, pun karena ikut event dan parade selama prosesnya.

Naskahku berjudul Cermin Lara merupakan hasil parade nulis novel selama 30 hari yang diadakan LovRinz sekitar bulan Agustus-September 2021 bertajuk KuPa5 (Aku Peserta Parade 5). Dinobatkan sebagai salah satu naskah terbaik dari sekitar 30 naskah yang bertahan sampai final, tentu menjadi kebanggaan tersendiri.

Naskah berjudul Aglet merupakan hasil parade Event Couple LovRinz yang bekerja sama dengan suami tercinta. Sedangkan untuk naskah berjudul The Chronos ikut dalam event Ramenuku (Rame-Rame Nulis Buku) Duet yang juga aku lakukan bersama suami. LovRinz membuka kesempatan untuk aku pribadi punya bonding yang lebih dekat dengan suami, meski kami sedang LDR.

Selanjutnya, naskah sekuel Cermin Lara hadir dengan tajuk Binar Luka Lara diikutsertakan dalam Baper5eru yang diadakan satu tahun setelah novel pertama terbitan LovRinz mengudara. Rangkaian kegiatan pun masih terus berlanjut, hingga event yang terbaru kemarin bertajuk Parade Cerpen Sastra. Di dalam kegiatan tersebut, LovRinz menghadirkan cerpenis dan sastrawan nasional yang memberikan ilmu dari pertemuan zoom, sekaligus bertugas sebagai juri event.

LovRinz totalitas dalam memberikan wadah untuk para penulis agar mendulang beragam informasi baru dan bisa jadi penerbit yang punya kualitas unggulan di kelasnya. Hal itu sejalan dengan visi owner-nya, Bunda Rina Rinz yang punya tujuan mulia dalam mengembangkan literasi di kancah yang lebih luas, yakni “Mewujudkan Keberlimpahan, Kebahagiaan, dan Kesuksesan Penulis Indonesia.”

Keren sekali, ‘kan, penerbit satu ini?

 

Banjarnegara, 14 September 2022

 

 


Sumber Referensi

https://binus.ac.id/knowledge/2019/12/apakah-buku-cetak-masih-diminati-buku-cetak-vs-buku-digital/

https://yoursay.suara.com/lifestyle/2021/12/28/121236/4-kelebihan-buku-fisik-daripada-e-book-kamu-pilih-mana

 

Sabtu, 19 Maret 2022

Mengulik Kisah Romansa-Religi Super Uwu melalui Novel Suara dari Langit Karya Halwa MJ.

Assalamualaikum teman-teman, alhamdulillah bisa kembali review salah satu karya religi-romance karya mbak Halwa MJ, salah satu kawan yang aku kenal dari parade Kupa5 LovRinz. Kali ini aku bakalan kasih review pada salah satu kisahnya yang berjudul Suara dari Langit yang diikutkan Parade Baper 5eru.

Yuk cekidooot 😍

Identitas Buku

Judul : Suara dari Langit

Penulis : Halwa MJ

Penerbit : LovRinz

Tebal : 188 halaman



Sinopsis Cerita

Untuk sinopsisnya aku petikkan dari premis dan blurb yang ada nih.

Permis : 

Suami istri yang menjalani pernikahan, tetapi sang istri masih mencintai mantan suaminya.

Blurb 

Hasna menjalani kehidupan rumah tangga yang baru, pasca lima bulan bercerai. Pernikahannya kali ini terasa hambar. Ia belum dapat mencintai Gus Dafi, sang suami. 

Di saat usaha pendekatan Gus Dafi untuk meraih cinta Hasna hampir berhasil, huru hara rumah tangga keduanya datang mengancam, setelah beberapa hari mantan suami perempuan tersebut kembali. Upaya sang gus selama ini pun terasa sia-sia.

Akankah pernikahan Hasna dan Gus Dafi dapat bertahan? 

"Saya yakin Gus Amin masih mencintai saya." (Hasna)

"Ternyata, melupakan kamu adalah dusta, Hasna." (Gus Dafi)

Nah, kira-kira udah kebayang ceritanya kayak gimana ya? Di sini terjadi banyak konflik yang meletup dari berbagai pihak. Aroma cinta segitiga juga terasa pas baru aja baca premis dan blurb-nya.

Tokoh-Tokoh yang Berpengaruh

Gus Amin :  tokoh utama yang mendominasi cerita pada bagian awal. Masalah yang ia sulut sendiri berbuntut menyakiti banyak pihak. Karakter yang terbaca dari setiap tindak tuturnya yakni Gus Amin ini merasa” gemede”. Ia merasa bisa poligami, padahal buat adil aja masih bingung sendiri. Bisa dianggap bahwa karakter Gus Amin ambil.bagian antagonis di cerita ini.

Hasna : tokoh utama yang jadi sumber cerita dan sumber konflik. Karena ada banyak peran keluarga Kiai Hasan untuk kehidupannya, Hasna jadi ketergantungan. Awalnya dilamar Gus Dafi, si anak tengah, tapi gadis ini udah justru kepincut Gus Amin, sang anak sulung. 

Selayaknya wanita pada umumnya yang akan mempertahankan pernikahannya ketika ada masalah, Hasna juga demikian. Ia bersikukuh nggak mau pisah ketika tau dirinya dimadu. Masih belajar move on, dia pun terpaksa menerima pinangan Gus Dafi demi menjaga dirinya dan keluarga yang membersamainya di pesantren. 

Gus Dafi : cowok ini tipikal penyabar. Dia pintar untuk menyembunyikan perasaan. Berjuang buat move on dari Hasna, tapi rupanya kelakuan masnya bikin dia naik darah dan ingin melindungi kakak ipar yang sempat jadi crush-nya di masa lalu.

Umi Aina : posisi ibu yang sebenar-benar ibu. Aku suka karakter beliau yang selalu bisa membela anak-anaknya yang bener dan menasihati anaknya yang salah. Pengen Hasna cerai dari Amin karena tau bahwa Hasna terluka karena diduakan.  Ibu angkat plus ibu mertua rasa ibu kandung. Joss.

Ada juga ayah mereka, Kyai Hasan : pemilik pesantren, tapi tidak terlalu menonjol ditampilkan dalam cerita. Beliau ini semacam pemilik “bell” dalam setiap kejadian. “Save by the bell” dalam permasalahan pelik anak-anaknya akan melibatkan sang ayah sebagai penengah. Hero yang sebenarnya kalau kataku mah.

Catatan untuk Penulis

Tak ada kesalahan berarti untuk penulisan. Hanya sedikit typo pada beberapa bagian. Tentu itu normal adanya. Apalagi untuk post di FB yang mungkin dikerjakan kejar tayang. Dan ini masih dapat dimaklumi. Aku rasa, Mbak Halwa nggak butuh editor juga untuk memperbaiki beberapa minus ini. Secara keseluruhan, oke.

Aku hanya agak terganggu dengan scene perpindahan waktu yang terjadi tiba-tiba. Kayak pas di awal Part 3, yang cerita tentang masa single Hasna, dan di Part 9 ketika menceritakan scene Hasna kehilangan orang tuanya. Sebaiknya, saran saya, tetap ada semacam petunjuk dan pengantar kalimat yang menggiring ke sana. 

Misalkan dengan tambahan “Hasna teringat ketika pertama kali ia kehilangan orang tuanya, waktu itu di rumah sakit, Hasna masih berusia X tahun. Ia belum mengerti banyak hal kecuali keluarga Gus Amin kala itu. Blaa...blaa.. “

Dengan kalimat seperti itu, pembaca digiring untuk paham bahwa scene yang diceritakan itu tentang masa lalu. Kalau aku, sih, paham. Tapi kayak tiba-tiba dan dadakan gitu. Gak nyambung sama cerita sebelumnya. 

Trus selama perjalanan cerita, relevansi judul dan kisahnya belum terlalu mengikat. Hanya disampirkan nasihat dari sang ayah bahwa ada “suara dari langit” yang menuntun Hasna untuk bertahan sampai saat ini. Alangkah lebih baik lagi, bila nasihat-nasihat ayah Hasna juga diselipkan dalam percakapan. Ada momen-momen ingat ayah, trus disampaikan nasihat lainnya. Jadi kekuatan judul Suara dari Langit juga akan lebih terasa.

Kesan pada Novel Suara dari Langit

Penulis terlihat luwes dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pondok pesantren dalam kisah ini. Tentu saja hal ini jadi berita yang bagus. Tiap bab seolah punya kekuatan alur yang cukup padat dan rapi.

Konflik yang ditawarkan sebenarnya klasik, tentang isu poligami di pesantren, cinta segitiga, dan proses move on sang wanita. Namun, penulis juga berani mengemas cerita ini dengan balutan pegangan ilmu agama, sehingga ceritanya akan terasa relate untuk siapa saja yang baca. Apalagi untuk para muslim, ya.

Beberapa selipan ilmu dari proses mengajar, cara menyampaikan pendapat, teknik parenting kedua orang tua Gus Amin dan Gus Dafi, jadi poin plus tersendiri. Kalau kamu juga baca, kamu pasti akan menemukan banyak sekali kata-kata bijak yang bertebaran.

Dari sisi romance, fluktuasi masalah juga cukup variatif. Gak hanya melulu menyoroti perasaan Hasna tapi juga perasaan Gus Dafi, bahkan Gus Amin yang sudah menikah lagi. Umi Aina juga banyak mengambil peran untuk hubungan anak-anaknya dan menantunya yang juga anak angkatnya.

Aku suka banget tiap karakternya punya kekuatan. Jadi, ceritanya nggak garing, bumbu komedi tipis-tipis bikin sumringah, plus ketika lihat tingkah uwu pasangan baru Gus Dafi dan Hasna yang baru bermekaran bunga cintanya. Ikut gemes liat ke-uwu-an yang terjadi.

Tarik ulur ceritanya cukup punya jarak yang oke untuk jadi satu kesatuan cerita novel yang utuh.

Penilaian Subjektif untuk Novel Suara dari Langit

Aku kasih nilai 7.9 dari 10 untuk Novel Suara dari Langit. Ceritanya gampang dicerna, nggak bikin pembaca terlalu mikir berat banget, tapi penulis juga mampu mengaduk emosi dari karakter tokoh yang ia ciptakan. 

Setelah aku baca 25 part dari kisah ini, aku jadi punya pandangan baru tentang sebuah cerita : Sebuah kisah yang menarik tak harus berasal dari sesuatu yang nggak kamu pahami. Mulailah tulis kisahmu sendiri, ajak orang lain untuk bersama-sama sepakat bahwa tulisan yang kamu buat mengandung manfaat.

Sampai akhir, ceritanya makin seru. Konflik makin naik, dan penulis berhasil menyajikan kisah yang oke untuk sebuah romance-religi.

Good job, mbak Halwa. Semoga nanti laris manis untuk novelnya yaaa..


Banjarnegara, 19 Maret 2022


Rabu, 05 Januari 2022

Belajar Sejarah melalui Novel History-Fantasi Mantra 99 Hari

Assalamualaikum, sahabat. Alhamdulillah kali ini aku mau bahas tenteng novel his-fan atau history fantasi yang punya latar era Jawa Kuna, karya salah satu kawan yakni Erlana Lan dan Nita Sutrisna. Jujur, sebelumnya aku belum pernah baca tema ini, jadi pengalaman membaca kisah yang dihadirkan kedua novelis femes di genre ini akan jadi sebuah catatan istimewa.

Yuk cuz, cekidooottt.

Deskripsi Buku

Judul : Mantra 99 Hari

Penerbit : LovRinz Publishing

Tahun Terbit : Januari 2022


Sinopsis Cerita

Kisahnya tentang pemuda keturunan bangsawan yang pergi dari lokasinya untuk mencari pengalaman baru, mengembangkan wilayah, tetapi malah nyasar ke kerajaan asing karena membaca mantra di sebuah batu saat ia istirahat dalam perjalanan.

Rupanya, lokasi tersebut adalah Nilamaya, salah satu kerajaan yang tertutup dari luar karena ada mantra gaib yang ‘menghilangkannya’ dari pandangan orang-orang luar. Di sinilah perjalanan Damar Saka dimulai. Dirinya harus membuat keturunan Putri Kirana Dewi jatuh cinta agar bisa keluar dari sana.

Di sisi lain, mantra itu dibuat untuk keturunan Pangeran Danindra agar membuat Putri Mayang Jingga bisa keluar dari kerajaan itu. Rupanya, mantra salah sasaran ini membuat dia dan sepupunya menjadi memanas. Ada bumbu cinta segitiga di dalamnya.

Tokoh yang Paling Berpengaruh

Ada beberapa tokoh yang tercatat dalam kisah Mantra 99 Hari.

Raden Damar Saka, sosok pemuda berdarah Majapahit yang berencana untuk berkelana demi meningkatkan kualitas hidup Desa Glagah Wangi. Karakternya cukup kuat, pintar, sempurna, sakti mandraguna. Tipe suami-able banget deh.

Ada Mayang Jingga, gadis keturunan yang diasingkan. Dipanggil Gusti Ayu karena dia tidak menjabat resmi. Dia menanti titisan kekasih hati yang akan membaca mantra 99 hari agar bisa keluar dari Nilamaya. Pribadinya ceria dan suka berpetualang, makanya dia benar-benar bosan terkurung dan tidak bisa berkelana. Cablak banget, agak ‘nakal’ dan terlihat kurang beradab untuk ukuran seorang keturunan bangsawan.

Ada Nawang Jingga, keturunan raja Demak saat itu Prabu Haryadewa. Satu-satunya keturunan yang hendak dijodohkan dengan Damar Saka. Anggun di depan, agak kasar di belakang, tetapi tak banyak orang yang memahami karakter ‘jahat’nya itu.

Tumidi dan Tukirin, pengawalnya Damar Saka saat hendak menjelajah. Duaduanya bikin bengek. Rusuh dan lucu. Humor di cerita ini keluar dari mulut mereka. Jadi pencair suasana ketika Damar Saka sedang sedingin es.

Ki Iprit. Di ini Om Jin yang jagain batu tulis yang akan dibaca calon titisan. Om Jin ini rada-rada pelupa. Maklum faktor U. Dia aja bingung mana keturunan aslinya, Nawang Sari atau Mayang Jingga. Dia keluar setelah batu tulis itu dibaca. Udah ratusan tahun sejak dibuat pertama kalinya. Tidurnya udah kelamaan, ya, Om Jin.

Aku pribadi minta maaf sama kedua penulis kalau review ini ada salah dalam penulisan, ya. Agak ngawang dan gak beneran yakin kalau ini bener, sih. Tapi semoga bener yaaa. 

Catatan untuk Penulis

Secara teknikal, kedua penulis sudah sangat rapi dalam mengeksekusi tulisan. Baik untuk dialog tag, teknik bercerita, dan lainnya. Hanya mungkin beberapa typo masih keliatan, itu pun sangat minor dan masih bisa dimaklumi. Aku aja kadang-kadang juga ada typo-nya sekalipun udah masuk editing ke tiga. Jadi, buatku pribadi, ini nasih sangat manusiawi dan bisa dimaklumi. Typo-nya juga bukan sesuatu yang fatal banget sampai mengubah arti, kok.

Satu lagi yang aku lihat, bahwa karakter Damar Saka ini terlalu sempurna. Padahal dia ini tokoh utama. Paling nggak, seharusnya ada satu titik kelemahan yang bisa membuat dia oleng dan diserang. Misal takut kecoak, takut ular, atau apalah yang memperlihatkan kelemahannya. Dalam beberapa part yang sudah sempat dibaca, karakter Damar Saka ini benar-benar Dipertuan Agung yang tidak memiliki cacat.

Padahal, untuk karakter Mayang Jingga dan Nawang Sari sudah memiliki kelemahannya masing-masing. Sehingga kepribadian mereka tampak manusiawi. Maka, sayang aja kalau tokoh utamanya benar-benar terlihat “sempurna”. Atau mungkin aku yang kurang cermat bacanya ya?

Kesan untuk Novelet Mantra 99 Hari

Salah satu kekuatan cerita, aku pribadi menilai dari openingnya. Untuk cerita novelet ini, openingnya bagus, menukik, dan langsung membuat pembaca penasaran. Dibuka dengan kalimat, “Bu, siapa itu tamu kita?” menjadi sebuah penanda untuk memantik keingintahuan pembaca pada sosok yang akan dikenalkan selanjutnya.

Penulis juga memberikan genre roman komedi pada naskah ini. Humor tipis-tipis dalam setiap part membuat cerita yang disuguhkan semakin terasa hidup. Ceritanya mengalir, kayak ditulis satu orang, padahal ini tulisan duet. Artinya Erlana Lan dan Nita Sutrisna sang penulis bisa mengawinkan ide, kemudian saling melengkapi untuk bisa menghasilkan cerita yang bagus dan berkesan.

Aku aja sampai heran, “Kok bisa sih, nulis beginian?”

Karena ini tema yang baru aku baca dari sekian novel lainnya, maka rasa kagum dan kaget itu kayak gak habis-habis. Keren dan ada kosakata-kosakata baru yang bisa dijadikan pembelajaran untuk aku yang masih belajar menulis juga.

Penilaian Subjektif untuk Mantra 99 Hari

Aku mau kasih nilai 8.5 dari 10 untuk Mantra 99 Hari. Kisahnya runut, logis, gak kelihatan ada cacat logika. Aku merasa terkesima dengan pilihan kata dan kalimat yang gak terlalu puitis, tapi bisa nyampe ke pembaca. Penulis terlihat menguasai genre ini dengan baik. Mungkin karena faktor dari kegemaran dua penulisnya yang sangat suka sejarah, terutama di Indonesia. 

Ada satu quote yang sangat bagus untuk menggambarkan Novelet Mantra 99 Hari sebagai sebuah karya yang harus kamu baca, “Menulis adalah mencipta. Dalam suatu penciptaan, seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan napas hidupnya”. – Stephen King

Terlihat bahwa setiap jengkal kata dan kalimatnya bernyawa. Seolah mengajak pembaca berkelana. Imajinasinya main, sekaligus nambah pengetahun pada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah. Meski genre fantasi sejarah, tapi nama tokoh yang ada di dalamnya tu beneran. Dan yang paling penting, gak ada rekaan yang melunturkan nilai sejarah aslinya.

Good Job buat Erlana Lan dan Nita Sutrisna. Ini keren banget sih!



Kamis, 16 Desember 2021

Politik Underdogs, Mengupas Sisi Lain Intrik Kenegaraan Lewat Novel Boneka Tahta

Assalamualaikum, sahabat. Selamat datang di blogku. Berawal dari niatan mengapresiasi karya, aku jadi belajar lagi untuk review tulisan. Kali ini, ulasan akan ditujukan untuk kawan sesama moderator di LovRinz, yang punya tema perpolitikan. 

Asli sih, baru baca judulnya aja aku udah mbatin, berani banget ambil tema sensitif begini. Pasti akan ada sesuatu yang mau disampaikannya dari tema yang out of the box kaya gini. Aku pribadi agak menghindari menulis hal-hal kontroversial, maka aku salut sama penulisnya yang berani angkat topik intrik perpolitikan sebagai tema besarnya.

Yuk cuz cekidoooott.

Deskripsi Buku

Judul : Boneka Tahta

Penulis : Zee Anulika

Penerbit : LovRinz Publishing

Tahun Terbit : 2021

Genre yang diusung adalah distopia, atau semacam negeri antah berantah. Namun, hal-hal yang ada di Negara Portrum seolah nyata. Penulis menyajikan kisah ini dengan cukup baik dan terasa real.

Sinopsis Cerita Boneka Tahta

Arola Ryu berasal dari keluarga politisi kenamaan yang dianggap memiliki dinasti di Portrum. Namun, dia tidak pernah tertarik sedikit pun dengan politik dan lebih memilih menjadi pelukis. 

Kehidupan Arola semula nyaris sempurna. Hingga suatu hari Klemen Ryu--ayah Arola--meninggal karena serangan jantung. Dan tiga hari setelahnya, Abaven Ryu--kakak Arola--diciduk ACI (Anti-Corruption Inteligent). 

Demi mengumpulkan bukti, Arola bergabung dengan Sabian, si lelaki berwajah datar yang merupakan anggota organisasi revolusioner. Bersama, mereka melakukan perjalanan yang menantang maut. Mampukah Arola membersihkan nama baik keluarganya?

Aku udah membayangkan akan ada petualangan seru di dalamnya, disertai benih asmara antara keduanya. Apakah benar? Baca sendiri aja, ya!

Karakter Tokoh Utama yang Berpengaruh

Tokoh utamanya Sabian, karakter yang dijabarkan cukup kuat. Dia masuk kaya semacam FBI gitu, organisasi mata-mata, demi mendapatkan bukti kebenaran tentang kematian ibu dan adiknya. Jago berantem, jago ngebanyol juga meski sering garing. Hahaha.

Arola adalah anak Klemen Ryu yang terpaksa harus ikut campur urusan kenegaraan, karena ada bukti chip yang harus dijaganya. Padahal, dia pun gak ngerti sama sekali tentang hal ini.

Mavin, kawan Sabian yang juga punya peranan penting dalam cerita. Plot twist karakter Mavin ini juga bikin aku kaget, lho.

Klob Ryu. Paman Arola, adeknya Klemen Ryu. Dia tokoh antagonis di cerita ini. Geregetan kalau udah bahas dia dalam cerita.

Semua tokoh saling bertaut dan penulis sudah sangat baik meramu karakter dan plot jadi sebuah cerita yang nggak membosankan. Keren!

Alur Cerita Novel Boneka Tahta

Dengan alur maju, penulis menjabarkan kisah dengan diawali pada masa kecil tokoh utama Sabian, yang bersinggungan langsung dengan Arola dan Klemen Ryu. Bab selanjutnya mengisahkan tentang perjalanan keduanya untuk mencari kebenaran dibalik kematian tokoh terkemuka di Portrum, sembari mencari akar permasalahan kebobrokan sistem yang ada.

Sindiran halus untuk perpolitikan Indonesia, yang mungkin bisa jadi lebih parah dari cerita yang ditawarkan penulis dalam cerita ini. Bahwa politik itu kotor, kemudian selalu ada hal-hal yang disembunyikan di dalamnya, demi untuk kepentingan pribadi.

Eksekusi plot juga baik, mulai dari pengenalan karakter, menuju permasalahan, klimaks, dan eksekusi ending yang kemungkinan juga akan bagus, meski gak diunggah di FB.

Catatan untuk Penulis

Saat membaca, mata udah melotot nyari-nyari kesalahan apa yang bisa ditulis sebagai catatan untuk penulis. Hanya terlihat beberapa typo aja. Nggak terlalu berpengaruh pada kenyamanan dalam membaca cerita ini. Secara teknik, penulis sudah paham kaidah dasar dalam menulis sebuah cerita, ada variasi dialog tag, variasi kalimat, sehingga pembaca pun dimanjakan. 

Kesan saat Membaca Boneka Tahta

Penulis sudah baik dalam mendeskripsikan sebuah situasi. Telling dan showing-nya oke. Saat baca, aku jadi ikut membayangkan suasana yang tergambar dalam narasi yang dijabarkan.

Aku suka kata-kata yang diselipkan tokoh Mavin di bab 6.

"Aku selalu berpikir begini, tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini. Masing-masing memiliki dua sisi yang berlawanan. Aku lebih senang dianggap jahat, tetapi melakukan kebaikan."

Memang pada dasarnya baik-buruknya manusia ada pada persentase 50:50 yaa.. Jadi, pernyataan Mavin itu memang benar adanya. Tak selamanya seseorang yang jahat memang jahat, pun kebalikanya. Jangan hanya liat sampul bukunya, gitu.

Tak terlihat adanya plot hole, sehingga ceritanya cukup menarik untuk terus dibaca. Aku pribadi menganggap novel ini agak berat karena bicara tentang perpolitikan, tetapi bukan berarti ceritanya susah dimengerti. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan dalam setiap bab yang dibaca. Sehingga memantik rasa penasaran untuk menuntaskan ceritanya.

Moral of The Story

Setiap cerita akan menyelipkan pesan, baik tersirat maupun tersurat. Aku menangkap beberapa pesan yang disampaikan penulis dalam Boneka Tahta sebagai berikut.

1. Jangan mudah percaya pada orang lain, bahkan orang terdekat. Jika dilihat dalam pandangan perpolitikan, berat pada salah satu sisi kubu tidak akan memberi keuntungan untukmu.

2. Yakin bahwa diri sendiri bisa melalui beragam cobaan dan masalah. Kadang, sedih dan terluka yang mewarnai kehidupan kita hanyalah salah satu dari cara Tuhan untuk membuat kita lebih kuat dari sebelumnya.

Penilaian Subjektif untuk Novel Boneka Tahta

Aku bisa kasih nilai 8.3 dari 10 untuk cerita ini. Aku dibuat terkesan dengan pilihan diksi yang rapi, bahkan juga bisa menjabarkan situasi dengan sangat baik. Kudu banyak belajar dari penulis soal showing. 

Yang aku tahu, showing yang bagus memang harus melibatkan semua pancaindera, sehingga penjabarannya akan membuat pembaca bisa memahami cerita dari perspektif yang berbeda. Good job.

Aku suka sama ceritanya, berbobot. Baca cerita ini aku seolah-olah jadi paham perpolitikan. Ada insigt baru saat membacanya. Trus, nama-nama imajinatifnya sih keren, aku belum bisa kalau yang beginian. Lebih senang tipe slice of life gitu. Hehhee. Ada mata uang gal, kota Garin, Bane, Dant, Batt, Solor, negerinya namanya Portrum 😍

Keliatan kalau penulisnya riset dulu, atau paling nggak paham dikit-dikit tentang materi ini. Karena penjabaran intrik dan konflik kenegaraan, sampai saham politik juga cukup bagus. Underdog yang dimaksud, awalnya kukira jaringan yang buruk, rupanya malah sebaliknya.

Untuk mengakhiri review ini, aku jadi kepikiran salah satu lagu yang cocok untuk karya penulis. Lagunya Sheila on 7. Pasti Kubisa.

“Pasti kubisa melanjutkannya...

Pasti kubisa menerima dan melanjutkannya..

Oh pasti kubisa melanjutkannyaa..

Cepat bangkit, dan berfikir

Semua tak berakhir di sini...”

Cocok untuk Arola yang mau berusaha membersihkan nama baik ayahnya, menyelamatkan kakaknya, kemudian bangkit dari rasa takut dan trauma yang mengancam nyawa. Mantap!


Banjarnegara, 16 Desember 2021


Rabu, 15 Desember 2021

Siap, Mas Bos! Novel Romance Office Super Ringan untuk Dibaca

Assalamualaikum, teman-teman. Welcome back to my blog.

Ketagihan ulas karya karena seru baca cerita dari teman-teman, kali ini aku mau review novel dari mbak Sita, salah satu peserta Baper di Penerbit LovRinz. 

Yuk cuz cekidoott!

Deskripsi Buku

Judul : Siap, Mas Bos!

Penulis : Sita Resmi

Penerbit : LovRinz Publishing

Sampul resminya dicomot dari FB penulisnya langsung. Hehehe.

Sinopsis Cerita

Penulis mencantumkan genre slice of life dalam kisah ini. Untuk spoiler, aku kutipkan dari blurb novel satu ini, ya.

Nay seorang gadis tomboi yang mendadak feminim karena ulah sang Bunda yang memaksanya untuk bekerja di sebuah perusahaan ternama.

Selama berjalannya waktu gadis itu lebih menikmati pekerjaannya daripada penampilan, tidak sampai di situ, pertemuannya dengan sang atasan yang super duper galak membuatnya terus mengelus dada dan harus memiliki selusin kesabaran untuk menghadapinya.

Apakah Nay akan  berhasil menghadapi sang atasan atau sebaliknya?

Dari potongan kisah yang ditampilkan, sudah jelas akan terlihat konflik tentang atasan dan bawahan yang kemungkinan seru. Ditambah bumbu romansa, tentu kisah ini akan menyenangkan saat dibaca.

Membangun Karakter yang Kuat

Tokoh utamanya Nayara yang sering dipanggil Nay. Karakter yang ditampakkan penulis pada sosok Nay ini sangat kuat. Pribadi yang nggak gampang direndahkan oleh orang lain, tetapi juga punya sisi lemah takut naik lift. Karakter seperti ini masih sangat manusiawi, sehingga menurutku, penulis sudah cukup baik dalam eksekusi karakter tokoh utama sebagai sosok yang dominan dalam cerita.

Tokoh ke dua adalah Aga. Sosok bos di kantor Nay, yang punya karakter cool khas para eksekutif muda, tapi juga punya gengsi yang tinggi selayaknya para bos pada umumnya. Aga ini tipikalnya kaya Gu Jun Pyo di BBF itu, lho. Kaya, gantengnya kaya Suga BTS, tapi juga ada usil-usilnya dikit.

Lainnya adalah tokoh pelengkap yang mengisi kehidupan Nayya dan Aga. Mama, Papa, teman kantor, dan keponakan unyu si Aga bernama Kai. 

Catatan untuk Penulis

Aku ada beberapa catatan untuk penulis mengenai teknis berikut ini.

Untuk bagian pembuka, aku rasa penulis masih perlu belajar lebih banyak terkait showing untuk memaksimalkan kalimat pertama yang menggebrak. Bagian pembuka kalimat pertama adalah kunci untuk memancing rasa penasaran pembaca untuk terus setia pada kalimat yang dituliskan.

Penulis masih kecolongan dalam menuliskan kalimat panggilan Bunda. Karena menggunakan POV 3, seharusnya panggilan Bunda itu tidak terjadi. Hal ini jadi bocor POV. Sang ibu, bunda, ibunya bisa menjadi pilihan untuk menggantikan panggilan Bunda di dalam narasi, kecuali untuk percakapan Nay selanjutnya.

Penggunaan partikel di- juga belum tepat untuk beberapa kalimat. Aku menemukan banyak kesalahan dari Bagian Satu. Aku ambil salah satu contoh kalimat yang belum tepat berikut ini.

“Didalam hati Nayyara tidak mau mengecewakan Bundanya.”

Kalimat di atas bisa dibenarkan seperti ini, “Di (spasi) hati Nayyara(,) (ia) tidak mau mengecewakan (b)undanya.”

Penulis bisa mengecek ulang segala penempatan di- yang belum tepat. Rupanya ini terjadi pada semua part yang disajikan untuk dibaca. Jadi coba aku jelaskan secara singkat ya...

Penggunaan di- akan selalu dipisah jika bertemu dengan tempat, seperti di sekolah, di rumah, ke kafe, di hadapannya, di lantai dan lainnya.

Penggunaan di- akan selalu disambung dengan kata kerja, sehingga kata itu bisa dibuat menjadi bentuk aktif me- seperti dicium bukan di cium, dikejar bukan di kejar, diterima bukan di terima, diterkam, bukan di terkam. 

Kata ganti Anda juga luput diberi kapital oleh penulis. Anda adalah kata ganti ke dua, sehingga harus menggunakan kapital karena biasanya ini digunakan dalam sebuah percakapan dua orang. Karena beberapa kali kata ini dituliskan dengan huruf kecil, bisa kuasumsikan kalau penulis belum paham tentang hal ini. Its okay.  Penulis yang baik adalah penulis yang mau belajar terus. Aku pun masih terus belajar kok.

Selanjutnya, meski sudah terasa luwes dalam penyampaian kalimat, tapi terasa bahwa penulis masih kebingungan dalam merangkai kalimat yang efektif. Beberapa paragraf terkesan terlalu panjang, terlalu banyak koma, terlalu banyak serangan kata ganti -nya. Aku sih paham maksudnya, tetapi belum tentu dengan pembaca lainnya. Aku ambilkan contoh pada bagian awal cerita.

“Doa terbaik untuk putrinya, dan berharap lebih untuk kedua saudara Nayyara yang merantau jauh. Hanya Nayyara yang bisa diandalkan selama ini, walau dengan kehidupan pas-pasan gadis itu tidak pernah protes. Hari sudah mulai larut tapi Nayyara masih betah berada di teras, menselonjorkan kakinya yang terasa letih karena high heels yang dia kenakan pagi tadi. Efek yang luar biasa, andai tadi dia memakai pantofel mungkin tidak sampai seperti ini.”

Saran perbaikan untuk paragraf tersebut dari aku begini :

“Sang bunda memberikan doa terbaik untuk putrinya. Doa yang sama juga dipanjatkan untuk saudara Nayyara yang merantau jauh dari rumah. Selama ini, hanya Nayyara yang bisa diandalkan bundanya. Walaupun pas-pasan, gadis itu tidak pernah protes. (Ganti paragraf baru)

Hari sudah mulai larut, tapi Nayyara masih betah berada di teras, menyelonjorkan (huruf s ketemu me-, jadinya luluh, bukan menselonjorkan, tapi menyelonjorkan) kaki yang terasa letih karena heels yang dikenakannya. Rupanya, ia baru menyadari efek alas kaki itu setelah bekerja. (Dia berpikir) jika memakai sepatu pantofel, mungkin kakinya tak akan setelah itu.

Beberapa kali juga ketemu penempatan kata ‘tetapi, namun, tapi’ yang belum tepat.  Aku ambilkan contoh pada  Bab 7 di bawah ini.

“Salah satu contohnya ada Aga mengemudikan mobilnya dengan hati-hati, sikapnya kembali seperti semua. Tetapi ada yang berbeda.”

Kata negasi tetapi dan tapi, harusnya ada di tengah kalimat dengan penambahan koma (,) sebelumnya. Kata negasi Namun dan Akan Tetapi, ditempatkan pada awal kalimat.

Sehingga, saran perbaikan untuk kalimat di atas sebagai berikut :

“Salah satu contohnya ada Aga mengemudikan mobilnya dengan hati-hati, sikapnya kembali seperti semua. (Namun)(,)ada yang berbeda.”

Wuaah.. Gak kerasa nulis koreksi sepanjang ini. Hahhaa. Maapkan aku ya mbak penulis. Aku sudah detailkan untuk tiap bab di kolom komentar postingan di FB LovRinz and Friends, semoga bisa dipelajari lagi yaa.. Sama-sama belajar terus, karena penulis itu pembelajar sepanjang hayat, katanya.

Kesan untuk Novel Siap, Mas Bos!

Jika menafikan segala kesalahan teknis yang masih sangat bisa diperbaiki, aku cukup senang dengan selipan komedi tipis-tipis yang disajikan penulis. Tektoknya dapet aja gitu. Penulisnya pelawak apa bukan sih? Hahaha. Saat wawancara kerja juga ada humornya sekelebat. Ini tentu bagus. Semoga penulis bisa mempertahankannya.

Dari novel ini, aku melihat kalau penulisnya sudah cukup lama bergaul dengan kata-kata, meski terlihat pula kalau kurang diasah. Bahasanya nggak kaku, pilihan diksi dan dialog tag juga beragam. Jadi bacanya nggak bosan. Bagian teknis seperti yang udah kujabarkan di atas yang agak mengganggu, tapi overall masih bisa dimaafkan.

Penilaian Subjektif untuk Novel Siap, Mas Bos!

Novel Siap, Mas Bos! ini cukup ringan untuk mengisi waktu luang. Bahasanya pun nggak bertele-tele, meski kadang terlihat agak berputar-putar dalam penjabarannya. Seiring jam terbang yang tinggi, aku yakin penulis akan mampu  memperbaiki karyanya baik secara teknikal maupun konten. Menggunakan alur maju, penulis sudah bisa membawa novel ini dari perkenalan, konflik, dan eksekusi intrik dengan cukup baik. Kalau dikatakan pemula, maka penulis novel Siap, Mas Bos! ini adalah pemula yang punya modal baik untuk berkarya jadi novelis.

Untuk nilai, aku mau kasih nilai 6.9 dari 10. Temanya umum, sehingga siapa saja yang baca akan bisa merasa relate dengan materi konten yang sedang dibahas. Gak perlu banyak imajinasi saat membacanya. Good job.

The last but not least. Untuk menutup ulasan ini aku mau bilang sesuatu. Menulislah dengan suka cita. Menulislah dengan hati bahagia. Perkara teknis itu masih bisa diperbaiki, tapi jiwa seorang penulis adalah salah satu hal terbaik yang harus ada dalam dirimu kalau kamu benar-benar ingin kekal di dalam literasi.

Dari caranya bercerita, penulis bisa menyampaikan kegemarannya dalam berkisah, semangatnya, happy-nya, dan cerita mengalir dengan baik.

Terima kasih sudah hadirkan karya yang manis, ya, mbak Sita Resmi. Maaf hanya review alakadarnya. Soalnya aku juga masih belajar buat mengulas karya. Hehehe.



Banjarnegara, 15 Desember 2021

Rabu, 08 Desember 2021

Serunya Menikmati Perjalanan dan Petualangan di Negeri Kabut

Assalamualaikum teman-teman. Welcome to my page 🤗

Akhirnya ada kesempatan nge-blog lagi setelah sekian lama blognya vakum nggak diisi apa-apa. Kali ini, aku mau mau belajar review karya. Salah satu cerita yang mau daku bedah sekarang berasal dari naskah satu teman parade Kupa5 LovRinz, yang temanya tak biasa. Fiksi fantasi.

Yuk cuz aja kalau gitu yaaa.. 

Deskripsi Buku

Judul : Petualangan di Negeri Kabut
Penulis : Sri Al Hidayati
Tahun terbit : 2021
Penerbit : LovRinz Publishing



Dari sampulnya sudah menarik, ya? Terlihat penuh misteri dengan dukungan warna gelap yang mendominasi. Dari cover aja sudah bikin penasaran sama ceritanya, kan?

Sinopsis Cerita 

Aku kutipkan blurb dari Petualangan Negeri Kabut yang punya cover penuh rahasia satu ini.

Layla, seorang gadis SMP yang terjebak di sebuah dunia paralel bernama Negeri Kabut. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Negeri Kabut. Ia bertanya-tanya mengapa ia melihat sosok Ayahnya di Negeri Kabut. Padahal Ayahnya telah meninggal. 

Layla merasa Kakaknya tahu banyak tentang Dunia Paralel, dan Kak Nanda dekat dengan Tuan Harry. Layla ingin orang-orang di dekatnya bisa keluar dari jeratan Tuan Harry. Bagaimanakah Layla menolong orang-orang terdekatnya agar keluar dari jeratan Tuan Harry?

Saat baca blurb, aku ngerasa makin penasaran, apa bedanya Negeri Kabut dan Negeri di tempat Layla ya? Setelah membaca beberapa bagian yang ditulis di grup Penerbit LovRinz and Friend, terjawab sudah rasa penasaranku.

Membangun Karakter Tokoh

Ada beberapa tokoh utama dalam buku Petualangan di Negeri Kabut. Pertama, Layla. Sosok anak SMP yang superkepo dengan hal-hal baru di luar dirinya. Dia penasaran dengan Negeri Kabut, kemudian melibatkan diri secara tak sengaja, tetapi hal itu justru membuatnya mendapatkan pengalaman baru yang berharga.

Tokoh kedua, Nanda. Kakak dari Layla. Sosok yang membawa Layla untuk mendapatkan akses menuju Negeri Kabut karena laptopnya. Tokoh satu ini agak keras kepala, tapi sayang pada keluarga.

Tuan Harry adalah sosok antagonis di cerita ini. Semacam punya dendam pada penguasa Negeri Kabut. Ada langkah jahat yang dilakukannya untuk menguasai Negeri Kabut sepenuhnya.

Pak Tua atau Panglima Pangeran sosok yang sejak awal punya peran penting dalam membersamai Layla. Bahkan, dia juga sosok yang diandalkan di Negeri Kabut.

Semua peran yang ada di cerita ini cukup punya karakter. Aku merasa senang dengan cara penulis memberikan tema dan karakter pada tiap tokoh yang hadir di dalam Petulaangan Negeri Kabut.

Alur Cerita Petualangan Negeri Kabut

Bertema fantasi, kisah Petualangan di Negeri Kabut tak sepenuhnya berisi kejadian yang tak real. Kisah dikemas dengan cukup rapi bahwa ada kehidupan nyata yang dialami si tokoh utama, kemudian dia mendapati ada dunia paralel yang begitu membingungkan tetapi membuat penasaran. Beberapa part awal cukup membuat pembaca ikut merasakan teka-teki yang belum terungkap.

Menggunakan alur maju, penulis memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mengikuti kisah petualangan di sebuah tempat bernama Negeri Kabut. Ada banyak hal yang berbeda di sana dibandingkan di dunia nyata.

Catatan dan Saran untuk Penulis

Tanpa mengurangi esensi cerita, aku ada beberapa catatan teknis dan nonteknis untuk penulis.

Bagian 2  ada kalimat “aku undur pamit” yang terasa berbeda. Biasanya kalimat umumnya “undur diri” atau “pamit”. Sehingga kalimat tersebut masih terasa janggal ketika dibaca. Pada 2 kalimat sebelumnya juga sudah diselipkan kata pamit, sehingga terasa ada serangan kata tersebut yang terlalu sering. 

Bagian 3 terdapat kalimat “Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore” -> ada baiknya diganti “waktu sudah menunjukkan pukul empat sore atau pukul 16.00. Karena jam segitu sudah menjelaskan bahwa waktu yang dimaksud adalah sore hari pada jam empat. Menurutku, ini pemborosan kata, karena kalimat tersebut seharusnya bisa dipadatkan untuk dibuang salah satunya, tanpa mengurangi arti.

Agak ke bawah, penulis memberikan cabaran tentang fisik Nanda. Sebenarnya sudah cukup baik, rapi, dan detail, tetapi keliru untuk kata “lesung pipit”, seharusnya “lesung pipi”.

Pada Bagian 4, ditemukan pula satu paragraf yang terkesan terlalu penuh. Dijejali banyak kata “mata” yang cukup terasa mengganggu bagiku.

“Aku dan Haruka memiliki warna kulit yang sama. Aku sendiri punya bola mata berwarna cokelat. Orang-orang sering menyebutku Layla bermata cokelat. Warna bola mataku ini menurun dari Ayah. Aku juga memiliki mata sendu yang diwariskan dari Ibu.”

Secara umum, kaidah pengulangan sebuah kata dalam satu paragraf, idealnya hanya 3x saja. Namun, dalam paragraf tersebut, pengulangan dilakukan empat kali. Penulis sebaiknya menambah beberapa kosa kata pengganti agar kalimat terasa lebih kaya dan tidak membosankan. 

Penggunaan kata ‘juga’ pada kalimat terakhir di paragraf tersebut juga terasa janggal, karena 3 kalimat sebelumnya sedang membahas Ayah, tapi di akhir justru membahas Ibu. 

Next. Sejujurnya aku tipe pembaca (dan penulis) yang sangat concern pada pemilihan nama tokoh. Beberapa tokoh di cerita ini mirip-mirip. Kalau nggak Arif, Aji, Ari. Di beberapa part setelahnya tokoh Nanda punya teman namanya Nida. Jika boleh memberikan saran, untuk kisah selanjutnya penulis bisa mencari beberapa nama tokoh yang kontras agar pembaca tidak mudah keliru saat membaca alurnya.

Hampir seluruh part masih banyak menggunakan titik-titik (...) dalam penulisan. Padahal penggunaannya tidak terlalu efektif. Ketika dihapus pun, tidak akan mengurangi maksud penyampaian yang ingin disampaikan. 

Pada bagian bawah part 7, aku agak bingung pada kalimat Penjara Bawah Kabut. Di mana tuh? Oh ternyata yang dimaksud adalah penjara bawah tanah Negeri Kabut. Bagaimana Layla bisa menyebut namanya dengan lancar tanpa bertanya lebih dulu kepada Nanda? Alangkah lebih bijak bila kalimat sebelumnya dibuat “penjara bawah tanah di Negeri Kabut”. 

Beberapa kali menemukan penempatan ‘tapi, tetapi, namun’ yang masih belum tepat. Kata Namun harus ditempatkan pada kalimat pertama setelah satu kalimat sebelumnya. Aku ambil contoh penulis pada Bagian 8 berikut : 

“Kadang kesal kalau ada celetukan siswa meledekmu dan Arif, namun aku harus tetap fokus.”

Pilihan perbaikan kalimat yang bisa digunakan yakni sebagai berikut.

1. Kadang kesal kalau ada celetukan siswa meledekmu dan Arif, (tetapi) aku harus tetap fokus.
2. Kadang kesal kalau ada celetukan siswa meledekmu dan Arif(.) (N)amun, aku harus tetap fokus.

Pada bagian 13, dua atau tiga kali penulis masih salah menggunakan kata “memperhatikan” jadi “memerhatikan”. Kata dasarnya adalah hati, kemudian mendapat imbuhan per-kan. Sehingga seharusnya perhatikan yang ditambah me- akan tetap utuh, memperhatikan. 

Rupanya, kata “memerhatikan” masih beberapa kali ditemukan pada part selanjutnya. Kemungkinan, penulis memang belum paham pada bagian ini karena kata yang diberikan berulang kali sama.

Moral of The Story

Berbicara tentang petualangan, kisah di Negeri Kabut ini pun penuh intrik dan misteri. Beragam intriknya masih nggak ketebak, jadi pembaca diajak buat terus kepo dan nggak melewatkan setiap bab untuk mengetahui petualangan selanjutnya. 

Mengutip dari Bagian 3 di dalamnya, aku sangat setuju. "Jadilah pohon yang kukuh dan memiliki akar yang kuat. Jika diterpa angin, ia akan tetap tegak berdiri meskipun sempat goyah." 

Jika manusia diibaratkan pohon, tentu akan mendapatkan banyak ujian dan masalah. Dengan kekuatan dan iman dalam dada, maka sejatinya tak ada masalah yang gak bisa diselesaikan. Manusia hanya perlu keluar dari zona nyaman untuk dapatkan jati dirinya, menemukan solusi atas masalahnya.

Penilaian Subjektif tentang Petualangan di Negeri Kabut

Pada beberapa part awal, sejujurnya terlalu banyak narasi dan lebih sedikit percakapan yang menarik. Ada titik bosan saat membacanya. Aku merasa terlalu penasaran untuk sampai pada petualangan di Negeri Kabut yang dijabarkan pada awal blurb, tetapi penulis seolah mengulur alur. 

Agak bertele-tele pada bab awal, dan belum terasa feel-nya ketika masih bercerita di kehidupan nyata tokoh Layla. Mungkin karena kata-kata yang dituangkan masih berupa telling, belum showing. Its okay. Aku pribadi pun masih belajar untuk sampai pada penyampaian materi yang baik.

Ada intrik yang banyak nggak ketebak, jadi aku menikmati cara penulis untuk menyampaikan petualangan Layla di Negeri Kabut yang berbeda dari dunia nyatanya. Aku cukup excited untuk menemukan potongan puzzle yang dibuat penulis dalam tiap babnya.

Terlepas dari beberapa kelemahan teknis yang masih bisa diperbaiki, aku melihat bahwa idenya unik. Terlihat imajinasi yang meledak, tetapi masih sesuai porsinya. Penulis terlihat berhati-hati dalam memilih diksi sehingga masih terasa belum lepas.

Berdasarkan part yang sudah aku baca, masih ada sesuatu yang tertahan belum keluar. Aku sih yakin kalau penulis akan semakin terbiasa jika sudah menemukan pola dan jam terbang yang tinggi untuk menggarap genre ini.

Pada pertengahan part, aku merasa lebih nyaman membacanya karena sudah memasuki ranah petualangan. Imajinasiku ikut main pas baca beberapa kalimat pada Part 13 ke atas. Bahasa yang digunakan cukup ringan, nggak belibet, tetapi maksudnya pun sampai. 

Untuk teman-teman yang excited dengan kisah fantasi, aku merekomendasikan novel Petualangan di Negeri Kabut untuk menjadi salah satu koleksi di rumah. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Layla dan petualangannya di Negeri Tak Terjamah itu.

Overall, novel ini cukup baik, dan penilaianku untuk kisah ini adalah 7.2 dari 10.

Terima kasih untuk Mbak Sri Al Hidayati yang memberikan kesempatan untuk mengulas karyanya. Aku pribadi masih belajar dalam review karya, mohon maaf bila kurang berkenan. Maklum masih pemula. Hehehe. 😁


Nurul Khotimah
08 Desember 2021

Minggu, 04 Mei 2014

“Tea for Two”, ketika pernikahan tak seindah yang dibayangkan....


Perasaan saya tergelitik dan tergedor-gedor untuk membuat tulisan setelah membaca novel ini. Pernyataan di sampul belakang ditulis “Inilah kisah yang menelanjangi sisi buruk pernikahan. Para lajang, gemetarlah, karena lelaki yang kaupikir Mr. Right bisa berubah menjadi Mr. Totally Wrong.” Dan saya dibuat penasaran karenanya.
            Pembukaan cerita cukup membuat penasaran, dengan gaya bercerita dengan sedikit humoris, Clara membuat novel ini mengalir dengan baik. Mulai menuju klimaks saat adanya penamparan yang dilakukan Alan pada istrinya, Sassy, di hari ke dua honeymoon mereka di Bali. Menurut Sassy, hal itu berada di luar dugaan. Selama satu tahun perjalanan cinta mereka hingga ke pernikahan, Alan bukanlah sosok yang menampakkan tabiat yang tak baik.
            Saya ikut gemas, ikut merasa sakit, seolah-olah sayalah yang berada pada posisi Sassy. Apalagi mendapati sikap Sassy yang gampang meleleh karena mendengar kata-kata cinta yang berlebihan dari Alan saat mengekspresikannya. Saya sebal, ternyata ada ya lelaki seperti itu. Terlepas kisah ini adalah fiksi atau terinspirasi dari kisah nyata, saya menilai Clara cukup cerdik dalam mendeskripsikan cerita yang mungkin dapat dialami perempuan manapun di belahan dunia ini.
            Saya mencoba bersabar dengan kaliat-kalimat yang dituangkan di sana. Tapi saya kembali gemas saat Alan mencoba melarang Sassy bergaul dengan sahabat-sahabat terbaiknya. Bahkan ia kembali memukul Sassy saat perempuan itu sedang mengandung benih cinta mereka. Saya begitu sakit hati dengan tuduhan Alan pada Sassy tentang perselingkuhan yang dilakukan istrinya itu. Padahal sesungguhnya Alan yang berselingkuh. Astaga.... “sakit” kayaknya cowok ini. Begitu melakukan kekerasan dengan tamparan atau bogem mentahnya, Alan seolah-olah menjadi pribadi lain saat mengucapkan kata maaf. Begitu lembut, begitu manis dan romantis, dan sebagai perempuan, Sassy terpukau dengan perlakuan yang demikian.
            Ah, saya tak tahu lagi harus bersikap bagaimana bila menghadapi perlakuan serupa. Pernyataan di belakang buku sebelumnya sempat meneror pikiran saya. Ya. Saya memang gemetar, akhirnya. Baru kali ini mendapati novel yang sampai benar-benar memuat saya sangat gemas, bete, sebel, kasihan, bahkan sempat merasa “takut” untuk menikah. Hahaha...
            Dan setelah rampung di baca, mulut saya bergumam, WOW!
            Memang begitulah ekspresi saya membaca novel ini, begitu lugas, santai, humoris, tapi pesan moralnya sangat bisa saya rasakan. Saya bahkan sempat mendesis, menangis, dan tiba-tiba meletakkan novel ini, begitu saya mendapatkan kejadian dalam cerita yang sedikit “meneror”.
            Mungkin komentar dan tulisan ini terkesan berlebihan, tapi memang itulah yang saya rasakan. Tea for Two merupakan salah satu novel yang baik yang pernah saya baca. Cukup memuaskan dahaga ketika saya menginginkan cerita yang penuh “teror”. Kutipan yang saya suka ada di halaman 278.

            “Cinta yang sehat adalah cinta yang mengeluarkan arus positif untuk dapat saling menghidupkan. Cinta yang penuh dengan penderitaan bukanlah tanah yang gembur untuk dapat menumbuhkan benih apapun. Benih akan mati tercekik di tanah liat yang kekurangan air.”

            Great Job, Clara! I like it....so much! J